3 menit waktu baca

Tertinggal di Masa Lalu

Tertinggal di Masa Lalu
Kredit Gambar Pinterest

Baik kalau berjumpa langsung atau melihatnya dari poster-poster yang bertebaran di story WA dan lini masa Facebook, Muhammad Said hampir selalu berwibawa secara intelektual. Cara dia mengambil angle foto, memakai syal etnik, dan tekukan wajahnya, dapat dikatakan maujud dari postur intelektual dalam imaji kebanyakan orang. Di tempat lain, dengan kacamata yang mulai menebal, jenggot yang jarang dirapikan, langkah bergegas, bicara yang mendakik-reflektif, dan berpakaian apa adanya tanpa dibuat-buat, menjadikan Saiful Hakam seperti seorang pemberi khutbah kebudayaan yang datang dari sebuah masa telah lampau. Selain itu, tanpa dapat dibantah, hadir sebagai pembaca yang serius dengan hanya menceritakan buku berat yang telah dikhatamkan, ditambah dengan penampilan yang membuat lawan bicara tercekat, Mirza Ardi merupakan intelektual di Aceh paling serius dalam dua dekade terakhir.

Ketiga nama di atas adalah teman saya semuanya. Saya memiliki hubungan personal dengan mereka.

Dengan Said, saya mengenalnya di Yogyakarta. Dia mahasiswa doktoral dari Sapen University. Said bergelar M.Ag. Gelar akademik yang tidak pernah dilepaskannya sampai kapan pun. Melalui lembaga penelitian ISAIs, dia meneliti tentang perubahan sosial keagamaan di Aceh. Saya diundangnya olehnya untuk bercerita mengenai Aceh di kantor mereka yang sederhana tetapi berkharisma karena ada balutan dengan mistisme Islam Jawa.

Tentang Hakam, saya mengenalnya dengan baik. Bahkan terlampau baik. Padahal saya hanya sekali berjumpa dengannya empat tahun yang lalu. Hakam bersemangat untuk bertemu dengan saya yang bersiap hendak ke Bandung dari Stasiun Gambir. Dia bergegas dari Stasiun Bogor. Selepas itu, saya mengunjunginya di kantor LIPI. Dia berkerja di situ sebagai peneliti. Hakam memiliki ruang kerja yang bagus. Setiap peneliti seperti dirinya memiliki ruang tersendiri. Di ruangannya bertumpuk buku. Kebanyakan buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Di meja kerjanya terdapat bendera Republik Rakyat Tiongkok. Dia mengagumi negara itu sampai mengunjunginya untuk beberapa lama demi belajar bahasanya.

Mengenai Mirza, jangan ditanya. Saya mengenalnya lama sekali bahkan sejak dia masih kuliah di Syah Kuala, Banda Aceh. Saya membaca tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai media. Dengan Mirza beberapa kali saya membuat perkumpulan untuk mengubah dunia – hal yang sudah kami hentikan sejak lama, mulai dari Kelompok Studi Darussalam sampai Pade Books. Sekarang, kalau berjumpa dengannya, saya lebih banyak sebagai pendengar. Sikapnya yang lurus sebagai teoritikus politik membuatnya kesulitan mendapat lawan bicara yang seimbang di Aceh. Entah di tempat lain.

Dengan ketiga teman ini, saya pernah berujar kalau kita ini seperti orang yang tertinggal di masa lalu dalam dunia pengetahuan. Ketika para akademikus lain berlomba menulis namanya di peta para sarjana dunia, kita masih menulis esai, menjadi narasumber diskusi publik, dan mendorong wacana.

Said, Hakam dan Mirza tergelak ketika saya mengatakan hal itu. Mungkin mereka, dan juga saya, menyepakati hal tersebut, sekaligus menolak kalau berada di wilayah demikian merupakan satu kesia-siaan. Menulis esai, menjadi narasumber, dan mendorong wacana publik juga pekerjaan academia yang sama pentingnya dengan menulis di jurnal bereputasi, menjadi pembicara di konfrensi internasional, dan menulis dengan seksama dalam skema book chapter.

Memilih sebagai intelektual publik– dengan mengerjakan sedikitnya pekerjaan di atas –bukankah bentuk lain dari kritikan kepada institusi pendidikan modern yang semakin berjarak dengan masyarakatnya. Para akademikus, saya menyebutnya demikian, karena tuntutan institusi lebih memerankan dirinya dalam dunia industri daripada gerakan yang lebih transformatif. Namun, apakah hal demikian merupakan pilihan sadar atau karena terperangkap dalam satu sistem birokrasi: standarisasi, akreditasi, dan absenisasi.

Lalu, kalau sudah begitu, siapa yang tertinggal di masa lalu atau yang berada di masa depan. Jangan-jangan, itu hanya imajinasi saya. Padahal di luar sana, semuanya tampak baik-baik saja.

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%