5 menit waktu baca

Yon Koeswoyo

KEDUANYA duduk membisu. Keputusan besar akan diambil. “Lalu kamu bagaimana Yon, masih mau bermusik atau tetap melanjutkan kuliah?” tanya Tonny.

Yon terdiam dan termangu. Dia berfikir untuk mau melanjutkan kuliah, tetapi tidak memiliki bakat. “Ya, bermusik saja,” jawabnya.

Tonny Koeswoyo perlu berbicara dengan adiknya, Yon koeswoyo, karena band yang mereka dirikan sejak tahun 1962, Koes Bersaudara, bersama Nomo Koeswoyo dan Yok Koeswoyo, sedang terguncang. Sang drummer, Nomo, anak laki-laki ketiga dari dinasti Koeswoyo, memutuskan untuk berhenti untuk bermusik. Penyebabnya, karena semakin hari, tawaran manggung semakin berkurangnya. Dia pun mencari usaha sampingan dengan berbisnis. Apalagi, Nomo baru saja menikah. Sebagai kepala keluarga, dia harus memastikan dapur rumahnya mengepul. Namun, bagi Tonny, hal itu tidak dapat diterima. “Musik atau bisnis?” tanya Tonny tegas. Nomo memilih berbisnis.

Posisi drummer di grup Koes Bersaudara otomatis ditinggalkannya. Sedangkan dua saudara yang lebih muda, Yon dan Yok Koeswoyo tetap memilih bermusik. Yon dan Yok adalah dua vokal di grup bersaudara. Harmonisasi suara mereka pernah menggetarkan blantika musik Indonesia. Lagu-lagu seperti Angin Laut, Dara Manisku, Bis Sekolah, Telaga Sunyi dan Pagi yang Indah, telah menasbihkan keduanya sebagai Phil dan Don Everlynya Indonesia.

Sepeninggal Nomo, grup ini mulai mengalami krisis. Tonny memutar otak. Koes Bersaudara yang sudah dibangunnya tidak boleh mati, harus terus berjalan.

Yon menawarkan temannya, Kasmuri, yang nanti dikenal dengan nama panggung, Murry. Drummer handal asal Surabaya. Tonny menerima. Namun, Yok menolaknya.

Lalu, sebagai bentuk solidaritasnya kepada Nomo, kakaknya, yang telah memilih mundur, laki-laki paling bungsu di keluarga Koeswoyo memilih mogok bermusik. Padahal rekaman sudah di depan mata. Karena sudah kepalang tanggung,  rekaman album pertama pun berjalan tanpa Yok. Toto AR yang menggantikan posisinyan. Dari album pertama, lahirlah lagu Manis dan Sayang, Kelelawar dan Derita. Setelah itu, pada album-album berikutnya, Yok kembali bergabung dengan saudara-saudaranya itu. Masuknya Murry, menggantikan Nomo, membuat kelompok band ini tidak lagi murni beranggotakan klan Koeswoyo, sehingga nama Bersaudara di depan Koes tidak lagi cocok.

“Saya sedang berjalan-jalan dengan mas Ton, lalu melihat iklan obat APC Plus. Saya menawarkan kata Plus untuk menggantikan Bersaudara. Mas Ton setuju,” kenang Murry.

Murry memang menjadi faktor plus di grup band pop ini. Gebukan drumnya lebih bertenaga dan variatif. Dibanding Nomo yang cenderung datar dan harmoni. Bersama Murry, Koes Plus merajai industri musik Indonesia sepanjang era 1970-an.

***

PEMBAWAANNYA di atas panggung cenderung kaku dan dingin. Hanya sepatah dua patah kata yang keluar dari mulutnya untuk menyapa penonton. Dia tidak seatraktif adiknya paling bungsu, Yok Koeswoyo. Namun, kalau sudah musik berbunyi, alunan suaranya mengalir seperti tanpa jeda. Itulah Yon Koeswoyo. Vocalis utama grup musik legendaris, Koes Plus.

Dari suaranya, lagu-lagu Koes Plus diantara yang paling dikenang: Kisah Sedih di Hari Minggu, Andaikan Kau Datang, Buat Apa Susah, Bujangan, Manis dan Sayang dan Kapan-Kapan.

Staminanya, untuk penyanyi berusia lanjut begitu mengagumkan. Andy F Noya, pemimpin redaksi majalah music The Rolling Stone, pernah dibuat terpana karena Yon bernyanyi dan berjingkrak-jingkrak 40 menit non-stop, tanpa perlu minum air putih.

Seperti Tonny, Yon tidak pernah meninggalkan Koes Plus. “Sampai saya tidak sanggup lagi,” jawabnya ketika ditanya kapan dia akan berhenti bernyanyi.

Koes Plus, sepeninggal Tonny, seperti perahu oleng. Ditinggalkan oleh ideolognya, membuat para personil kehilangan arah. Musik pun dilalui tanpa gairah. “Ketika berhenti bermusik, kami memiliki pekerjaan masing-masing. Murry sampai berjual batu akik,” kenang Yon satu hari. Yon sendiri berbisnis menjual rumput. Pekerjaan yang mengantarnya bertemu dengan istrinya, Bonita, setelah lama menduda.

Namun, bermusik adalah panggilan jiwanya.

Ketika musik tahun era tahun 70-an mulai dilirik kembali oleh publik, Koes Plus pun bernyanyi kembali. Bersama Murry dan Yok, penampilan mereka selalu ditunggu. Yon kembali menjadi suara utama Koes Plus. Suara utama Koes Plus itu dalam pengertian karena dia tidak pernah absen sekalipun. Ketika project bersama Dedi Dorres, dengan album Rindu Kamu, Yon hadir di depan. Murry saat itu tidak mengambil bagian. Begitu juga ketika mereka mengeluarkan album Nusantara 2000, tanpa Yok. Dia hadir bersama Murry. Lalu, terakhir, Yon bersama para musisi muda terus mengibarkan bendera Koes Plus.

Dia bernyanyi. Berjingkrak. Berteriak tanpa henti di atas panggung. Keringatnya mengalir deras.

Yon sepertinya sadar sekali, kalau dia adalah suara Koes Plus. Tonny memilihnya menjadi vokal utama Koes Plus, dan Bersaudara, karena dia memiliki pita suara yang halus. Benarlah yang Tonny katakan itu. Dengarkan saja suaranya pada Volume II, pada lagu Andaikan Kau Datang dan Kisah Sedih di Hari Minggu, begitu halus dan menusuk.

Ketika penyanyi lain di usianya sudah mulai kehilangan kemampuan, Yon terus berada dalam kondisi prima. Yon terus bernyanyi. Pun begitu, ketika personil lainnya memilih beristirahat. “Kami membagi tugas,” jawab Yok. Ketika banyak orang yang bertanya kenapa hanya Yon yang masih aktif.

Dibandingkan Yon, Yok yang lebih atraktif dan filsofis. Posisinya seperti juru bicara Koes Plus ketika menjelaska nilai-nilai apa yang dikandung dalam setiap lagu yang diciptakan oleh grupnya itu. Yok yang memiliki tugas menjelaskan itu kepada siapapun. Salah satunya tentang makna lagu Andaikan Kau Datang.

Awalnya, Yon bercerita bahwa lagu itu diciptakan oleh kakaknya, Tonny, tentang kisah cintanya bersama drummer Dara Puspita yang kandas. Ketika kelompok Dara Puspita tour ke Eropa, hubungan keduanya menjadi tidak menentu. Lalu, Yon mengambil langkah menikah dengan perempuan lain. Hal yang membuatnya bingung ketika pacar lamanya kembali ke tanah air.

Akan tetapi tidak begitu menurut Yok. “Kakak saya pada masa-masa akhir hidupnya mengatakan, bahwa lagu Andaikan Kau Datang adalah suara hati tentang masa hidup yang akan berakhir. Lalu jawaban apa yang akan kita berikan, ketika ditanya oleh-Nya.”

***

5 JANUARI 2018, membuktikan janjinya, berhenti bernyanyi ketika dirinya sudah tidak sanggup lagi. Koesyono Koeswoyo berpulang.

Memang di tahun 2017, ketika dia berjuang melawan sakit jantungnya, Yon juga masih sempat tampil bersama pelanjutnya, David, di sebuah pagelaran musik. Namun sekuat apapun manusia untuk terus melaju, tetap saja kata akhir untuk berhenti lebih kuat.

Yon adalah musisi. Dia seniman besar Indonesia. Yon memilih bahwa hidup memang harus berhenti seperti keinginannya: bermusik sepanjang hidupnya. Pada peristirahatan terakhirnya pun, sebagaimana wasiatnya, dia kebumikan satu liang lahat dengan kakak sekaligus mentornya: Tonny Koeswoyo.

Selamat jalan Yon Koeswoyo…

Catatan: Esai ini ditulis disela-sela keikutsertaan saya dalam Kursus Narasi Yayasan Pantau, Januari 2018. Awalnya, tulisan ini sudah saya publikasikan di platform Steemit, dengan judul, “Selamat Jalan Yon Koeswoyo.” Setelah memperbaiki beberapa hal: baik tanda baca, alur tulisan, dan kalimat, tulisan ini saya publikasikan kembali di platform ini untuk mengenang empat tahun kepergian Yon Koeswoyo.

Langsa, 13 Maret 2023

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%