5 menit waktu baca

Welkam “Immanuel Kant”

Hari ini, Facebook mengingatkan postingan dari Noviandi, tiga tahun yang lalu, tanggal 20 Agustus 2018. Dalam postingan itu, yang dilengkapi foto, Noviandi menulis untuk Miswari, “Bung Miswari mau segera berlayar. Mungkin ini pertemuan terakhir kami di Aceh tahun ini, Jakarta menunggunya untuk menyelesaikan S3. Selamat berlayar Bung Mis.” Tiga tahun berikutnya, tepat di hari ini, Miswari mengikuti ujian terbuka untuk program Doktoralnya. Dia menulis disertasi mengenai Perbandingan Wujudiah Hamzah Fansuri dan Filsafat Mulla Sadra, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Topik itu merupakan hal yang digelutinya sejak lama. Beberapa karya utamanya berbicara hal tersebut, termasuk tesis yang sudah dicetak menjadi buku oleh penerbit terkemuka di Yogyakarta, Wahdah Al-Wujud: Konsep Kesatuan Wujud Antara Hamba dan Tuhan Menurut Hamzah Fansuri. Selain itu dia menulis buku-buku teks yang berkaitan dengan Filsafat, Teologi, dan Tassawuf. Sebagai penulis prolifik, Miswari juga tidak mau berhenti di situ. Sebagai akademikus, dia juga menulis artikel untuk jurnal – hal yang belakangan diakuinya semakin menjengkelkan. Oleh karena itu, dia mulai merambah ke genre penulisan fiksi. Hari-harinya kini disibukkan dengan menulis novel dan cerpen.

Saya berjumpa dan berkenalan dengannya empat tahun yang lalu, ketika dia menjadi dosen IAIN Langsa. Miswari saat itu baru membawa pulang ijazah dari ICAS Paramadina. Dia belajar Filsafat Islam di lembaga itu dengan para ahli filsafat dan tasawuf itu. Dia terlepas dari tradisi pemikiran yang berkembang di PTKIN. Jadi, ketika awal mula dia menjadi dosen di lembaga Perguruan Tinggi Islam yang didominasi para pembaca pemikiran Nurcholish Madjid, dia menjadi pengkritik utama cendekiawan muslim Indonesia itu.

Baginya, Cak Nur hanyalah pelanjut pemikiran Sir. Muhammad Iqbal. Sebuah pernyataan yang pernah membuat meja salah satu kantin di IAIN Langsa menjadi panas. Perdebatan tidak bisa dihindari. Dia masih bersikeras pada pendiriannya itu. Namun, tidak lama, dia menjadi pengkaji Nurcholish Madjid yang serius. Bersama Ismail Fahmi, salah satu dosen di IAIN Langsa, Miswari menulis buku tentang kontribusi pemikiran Cak Nur dalam membangun budaya moderasi, Pemikiran Islam Cak Nur: Deradikalisasi Melalui Integrasi Filsafat dab Tawawuf.

Saya dapat mengatakan, dari perjumpaan kami yang singkat itu, dia termasuk teman diskusi yang paling sengit. Kami banyak membenturkan ide, terutama mengenai wacana-wacana sosial, politik, dan keagamaan. Lebih khusus lagi mengenai perubahan sosial yang terjadi di Aceh dan Indonesia secara lebih umum.

Ketika mengetahui dia akan menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam karir akademiknya hari ini, saya teringat dengan salah satu esai singkat empat tahun yang lalu, yang saya muat di platform Steemit, dengan judul Tidak Lagi di Bawah Pohon. Saya menulis esai itu tidak lama setelah kembali dari Jakarta untuk belajar menulis di kelas Narasi Yayasan Pantau. Esai tersebut saya sertakan dalam tulisan ini karena membawa kesadaran bahwa berada di jalan pengetahuan adalah pekerjaan sepi.

***

Di Rumoh Kupi, Langsa, saya melihat Miswari sudah duduk di salah satu kursi. Laptop dan gawainya selalu siap sedia. Sore itu, kami sudah membuat janji untuk ngopi. Agenda rutin yang tertunda selama tiga minggu, karena saya berada di Jakarta dan Jawa.

Di Jakarta, saya mengikuti kelas menulis narasi dari Yayasan Pantau. Sedangkan di Jawa, yaitu Yogyakarta, saya menyusuri jejak yang tertinggal. Perjalanan tiga minggu itu membuat banyak cerita hendak saya bagikan dengan Miswari.

Mukanya terlihat kuyu di hari itu. “Kepala saya lagi pusing pak, “katanya.

Lalu, saya memesan kopi. Tidak lama pesanannya juga sampai: Kopi Kocok. Minuman khas di Aceh. Kopi yang dicampur dengan telur kampong. Menurut hikayat, minuman itu dapat memulihkan kondisi yang lelah.

Saya kemudian menceritakan pengalaman dua minggu ikut kelas narasi. Dia menyimak dengan seksama. Sesekali menimpali.

“Sekarang bapak sudah tidak lagi di bawah pohon.”

Di bawah pohon, adalah istilah yang sering dia sampaikan, untuk mengambarkan tidak ketatnya perjalanan karir akademik seorang sarjana.

“Bapak sejarawan, tetapi di bawah pohon,” katanya suatu kali dengan tajam.

Dia mengatakan itu karena saya menulis banyak esai tentang sejarah politik di www.bung-alkaf.com. Akan tetapi jenjang perkuliahan saya bukanlah dididik untuk menjadi sejarawan.

Miswari adalah pembaca esai-esai saya yang paling keras. Keras dalam pengertian leterlek. Tanpa ragu memberi masukan mulai dari kalimat yang efektif, gaya, sampai tanda baca. Mungkin, sebagai penulis buku filsafat enam ratus halaman, serta menulis untuk jurnal setiap bulan, dia merasa memiliki otoritas sebagai kritikus esai.

Namun dua minggu belajar di kelas narasi yang dibimbing oleh Janet Steele dan Andreas Harsono,menurutnya, telah membuat saya tidak lagi di bawah pohon. Walau nanti, apakah akan kembali ke bawah pohon atau semakin menjauhi pohon, tentu akan diuji oleh waktu.

***

“Sebenarnya, saya masih ingin jalan-jalan,” kata Miswari suatu kali di Amijun Coffe, Langsa. Dia mengatakan hal itu menjelang hari ujian terakhir program doktoralnya. Miswari menyebutkan beberapa kota di Aceh yang ingin dia kunjungi, kapan pun dia mau.

Namun, dalam bayangannya, ketika proses perkuliahannya selesai, dia harus kembali menjalankan rutinitas sebagai dosen: Mengajar, menulis, mengabdi, dan absen harian. Mungkin bagi sebagian orang, hal itu tersebut bukanlah perkara besar, tetapi tidak bagi orang yang mendapuk diri sebagai seniman.

“Saya seniman, Pak,” katanya satu kali.

“Seniman itu seumur masa, bukan dibatasi dengan surat masa tugas belajar,” balas saya.

Setelah semua proses belajarnya selesai di UIN Jakarta itu, mungkin Miswari akan kembali beraktifitas sebagai “Laki-laki Timur” yang normal, sesuatu yang dikhawatirkannya.

“Akhirnya, saya menjadi Jusmadi,” keluhnya datar.

Jusmadi adalah aktor dalam lakon Apa Cantoinya yang sering dia tulis di Normal Press. Dalam lakon itu, Jusmadi digambarkan sebagai “Tuan Normal,” satu frasa yang dia dapatkan dari film kartun kegemarannya, SpongeBob. Jusmadi adalah gambaran bagaimana seharusnya laki-laki itu hidup dalam masyarakat komunal. Miswari itu tidak ingin seperti itu.

Namun, saya menghiburnya.

“Bapak akan jadi seperti Imanuel Kant. Bila dia menghabiskan hidupnya tinggal di kota kecil bernama Königsberg dengan menulis karya besar, bapak akan menghabiskan hidup di Kota Langsa, di Kompleks Bukit Indah, juga untuk menulis karya-karya besar lainnya.”

Di hari yang bersejarah ini, saya hanya ingin mengucapkan, “ Selamat atas capaiannya. Welkam Imanuel Kant.”

Langsa, 20 Agustus 2021

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%