2 menit waktu baca

Tidak Datang dari Jauh

Tidak Datang dari Jauh
Getty Images

Sesuatu yang datang dari jauh dianggap lebih baik. “Ini duku dari Jambi, sedangkan manggis ini dari Meulaboh, “kata seorang penjual, yang berasal dari Langsa, untuk meyakinkan pembelinya. Entitas yang datang dengan menempuh jarak yang tidak pendek memang tidak bisa diverifikasi, apakah kualitas yang dimaksud itu benar-benar lebih baik dari sesuatu yang dekat. Akan tetapi, anggap demikian selalu sulit untuk dibantah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks kebudayaan, sesuatu yang dari luar konteks kita dianggap lebih unggul. Dansa dianggap lebih menarik dari tari Lenso; The Beatles ditempatkan di atas Koes Plus; Sorban lebih tampak suci dari peci; jubah lebih berbau surgawi dari sarung; jas lebih modern dari batik.

Keseluruhan itu menjelaskan dua hal penting: Ketidaktahuan dan perasaan tertaklukkan.

Suatu masa di Aceh, kita kesulitan mendapatkan penceramah agama yang didatangkan dari luar daerah ini. Fenomena itu kemudian berubah di awal-awal millenium ini, ketika dengan sengaja, pemerintah provinsi mendatangkan seorang penceramah di Jakarta yang sedang naik daun untuk berpidato di atas mimbar Masjid Raya Aceh. Hal yang kemudian mendapatkan kritik keras dari seorang penceramah populer di Aceh. Baginya mengundang penceramah agama dari Jakarta, tidaklah tepat.

Penceramah tersebut sedang melakukan perlawanan terhadap perasaan tertaklukkan yang sedang mengidap di kepala pemerintah provinsi, sekaligus: Dia sedang meluruskan ketidaktahuan yang sedang berlangsung. Bahwa seakan-akan, agama yang dijelaskan oleh orang dengan logat yang berbeda dari kebanyak orang yang hidup dan tumbuh di Aceh, adalah lebih baik.

Dari mana datangnya ketidaktahuan dan perasaan tertaklukkan?

Secara sederhana, orang akan buru-buru menjawab akibat minimnya literasi. Belakangan, literasi bersama oligarki dan populisme seperti rapal sapu jagat. Dengan merapal salah satu ketiga diksi itu, maka segala persoalan yang kompleks terselesaikan.

Namun, bagaimana kalau jawaban sapu jagad itu kita singkirkan sejenak.

Bagaimana kalau terpesona dengan sesuatu yang datang dari jauh itu merupakan sesuatu yang bersifat deterministik atau genetik. Akan tetapi, pasti banyak yang akan menolak asumsi itu. Kalau asumsi itu dipertahankan, tentu saja tidak ada revolusi dalam sejarah manusia. Apabila asumsi itu dipercayai, maka tidak akan ada pergantian kelas dan mobilitas vertikal.

Atau dengan tawaran lain, melihat sesuatu yang datang dari jauh sebagai sesuatu yang lebih baik dapat dilihat secara psikologis.

Seperti, bahwa itu merupakan perasaan putus asa dan ketidakberdayaan. Seperti yang sedang terjadi di segelintir umat beragama yang frustasi melihat dunia yang berubah dengan cepat seperti sekarang ini, lalu mengharapkan turunnya Imam Mahdi untuk menyelesaikan segala kekacauan yang ada: Bumi yang menua, perang di sana-sini, kemiskinan merajalela, pemimpin yang tidak adil, dan segenap kemelut yang ada.

Imam mahdi atau Messiah, dalam keyakinan umat beragama dalam tradisi Semitik, adalah contoh bagaimana sesuatu yang datang dari jauh selalu dianggap lebih baik. Namun, bisa jadi, tanpa disadari, kita melewatkan hal yang lebih penting, sesuatu yang dekat, yaitu diri kita sendiri.

Langsa, 26 Agustus 2021

 

 

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%