2 menit waktu baca

Kadal dan Pilpres

Oleh Muhammad Alkaf

Handphome ku berbunyi. Rupanya istri menelepon.

“Ngopi di mana, Yang?”

Tadi, dari rumah, aku mengatakan hendak menulis di warung kopi. Aku mau menyelesaikan satu analisa politik, guna menjawab, mengapa Jokowi hanya mendapatkan 14% suara di Aceh pada Pilpres 2019.

“Di Kopi Paste, Alue Beurawe” Gimana?” tanya ku

Nada suara agak ragu, tapi jelas khawatir. “Sepertinya ada sesuatu,” pikirku.

“Jauh ya,” katanya lagi.

Warkop Kopi Paste memang agak jauh dari rumah tempat ku tinggal. Biasanya, aku ngopi di Rangkang Kopi. Salah satu warkop yang dekat rumah.

Lalu dia melanjutkan,

“Ada kadal di rumah. Entah dari masuknya. Sekarang kayaknya di bawah kain, di samping mesin cuci.”

Dia tidak meminta aku pulang  untuk membereskan kadal itu. Jelas tidak. Tetapi, suami mana yang tidak tahu maksud istrinya dibalik satu bahasanya. Bahkan dalam diamnya pun, kita mestilah tahu,  maksud yang tersembunyi.

Jelas dan terang, dia meminta aku pulang ke rumah. Kalau bisa bergegas. Guna membereskan kadal yang masuk ke rumah. Sekali lagi, kadal. Di saat aku, suaminya, sedang berfikir keras, menyusun analisa dengan berbagai pendekatan, baik sejarah, politik maupun sosiologis, tentang mengapa Jokowi hanya mendapatkan angka 14 % di Aceh.

Tidak dalam waktu lama, aku menutup laptop dan membayar kopi Americano seperti biasa.

Membutuhkan waktu kurang dari 10 menit jarak aku dengan rumah. Sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan mengapa angka 14% yang didapat oleh Jokowi.

Tetapi, aku juga tahu, di rumah, istriku pasti semakin waswas dan khawatir tentang kadal itu. Pasti juga tidak sabar agar aku sampai di rumah selekasnya, demi menumpas kadal itu. Ya, sekali lagi, kadal.

Sesampai di rumah, aku disambut. Wajahnya terlihat tidak gembira. Terlihat sangat waswasa. Lalu berceritalah tentang riwayat kadal itu. Tentang bagaimana hewan itu bisa masuk ke rumah, yang menurutnya, bisa jadi masuk dari saluran air di rumah.

Aku mengangguk-angguk. Wajah ku serius. Antara memikirkan kadal itu dan memikirkan angka 14% yang diperoleh Jokowi.

Lalu, kami berdiri di depan mesin cuci. Saling menganalisa bagaimana cara agar kadal itu bisa dienyahkan. Satu balok kayu tersedia. Sepertinya, dia menawarkan solusi agar kadal itu dieksekusi.

Kami berdua saling diskusi ringan. Istriku memberi 100% perhatiannya agar kadal itu harus diselesaikan. Aku ikut memberi pandangan, walau terpecah dengan analisa 14% itu. “Kalau kadal itu dieksekusi dengan balok, bisa berdarah. Gini aja, kadal itu diangkat aja bersama dengan kain tempat dia bersembunyi,” kataku.

Dia semakin khawatir,”gimana kalau kadal itu menggigit?”

“Gak, mana mungkin.” kataku menenangkan.

Kami berdua diam sejenak. Dia melihat khawatir. Takut aku digigit kadal. Atau takut kadalnya tidak dapat ditangani, kemudian dapat melarikan diri, lalu menguasai satu rumah.

Aku juga terdiam. Tapi bukan memikirkan kadal itu. Tapi memikirkan, bagaimana bisa Jokowi dapat 14%. Faktor-faktor apa yang menyebabkan hal itu terjadi.

Jadi kami sama-sama diam. Tepat di depan kain dimana kadal itu bersembunyi.

Akhirnya, opsi ku yang dipakai. Kadal itu ku tangkap. Kubalut dengan kain itu.

Selesai!

Ya, kadal itu berhasil diselesaikan. Wajah istri ku sumringah. Aku juga.

Dia tentu senang, kadal itu berhasil diselesaikan. Aku juga, karena bisa nulis lagi tentang angka 14% itu.

“Lanjut nulis ya di warkop,” kataku.

“Iya, warkop mana?” tanyanya

Aku tahu, maksudnya jangan jauh-jauh. Siapa tahu persoalan kadal itu belum usai.

“Warkop terdekat aja,” jawabku.

Dan aku pun kembali menulis. Sambil bersiap, kalau-kalau kadal itu muncul lagi.[]

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...