2 menit waktu baca

Tradisi tanpa Turbulensi

Tradisi tanpa Turbulensi
Kredit Gambar Xinhuanet

Ulil Absar-Abdalla, yang pernah mengejutkan jagat wacana Islam Indonesia karena tampil dengan lontaran pemikirannya, kini menjadi orang yang berbeda. Dia, yang dahulunya mengkhotbahkan kemerdekaan individu; mengkritisi tradisi; dan mendorong kemajuan berpikir, memilih menjadi orang yang datang dari akar lamanya sebagai muslim Indonesia yang tumbuh dalam balutan tradisi. Ulil mengalami gejala tradition turn. Dia – yang memang memiliki kapasitas intelektual – lalu mensyarah kembali Al Ghazali, seorang ulama yang sangat familiar di kalangan muslim tradisi, untuk publik virtual melalui akun Facbooknya.

Ghazali – dari apa yang ditampilkan oleh Ulil – telah dianggap olehnya sebagai jalan untuk kembali, sekaligus untuk memahami manusia dan alamnya. Tidak hanya mempertautkan dirinya dengan Al Ghazali, Ulil juga melakukan perubahan persona dengan selalu memakai blankon ketika tampil di muka publik. Dua hal itu – Al Ghazali dan blankon – seperti menjelaskan mengenai identitas dalam satu tarikan nafas: Islam dalam Tradisi.

Apa yang dialami oleh Ulil itu merupakan tipologi keberagamaan yang mulai marak di Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Ada banyak muslim yang dahulunya mencoba keluar dari akar tradisinya, tetapi akhirnya – dengan berbagai alasan personal – kembali ke sumber lamanya. Apabila orang-orang seperti Ulil – sebagai contoh muslim Indonesia yang datang dari Islam tradisi berbasis rural – dapat kembali menemukan rumah lamanya secara utuh, tetapi tidak bagi muslim yang tumbuh dalam tradisi Islam urban.

Islam urban yang sedari awal tumbuh secara sosiologis untuk memberi respon terhadap yang datang dari luar, selalu berada dalam turbulensi. Goncangan itu kemudian membuat rumah lamanya tergerus dengan segala perubahan yang harus direspon dengan cepat – seperti khas muslim urban sejak lama. Akibat dari itu, muslim yang datang dengan kebudayaan urbannya kemudian harus menghadapi kenyataan sosiologis kalau dia telah kehilangan masa lalunya – yang diingatnya dalam kegembiraan berislam di masa kanak-kanak. Kehilangan demikian berimplikasi kepada dua hal: menjadi konservatif atau penolakan terhadap agama.

Dua gejala ini, baik tradition turn, konservatif, dan penolakan kepada agama, merupakan tipologi baru dalam masyarakat muslim Indonesia akhir-akhir ini. Muslim dari kalangan tradisi kini malah merasa harus mengambil posisi untuk menjaga agamanya dari muslim urban yang dianggap telah menggerus Islam akibat datang dari pemahaman keagamaan yang tidak baik.

Di saat yang sama, muslim urban – terutama yang konservatif – terus berusaha mencari keseimbangn baru dengan mencoba mengadopsi gagasan yang datang dari luar, sebagaimana yang sudah menjadi tradisi mereka sejak lama itu. Namun, kalau dahulu muslim urban mengambil inspirasi dari Abduhisme sehingga mampu membangun reasoning keindonesiaan – contoh terbaik dari fenomena ini adalah Muhammadiyah dan PUSA, sedangkan sekarang inspirasi yang diambil lebih bersifat ideologis terutama karena pengaruh gagasan Islam transnasional

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%