61 menit waktu baca

Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

Biografi Ali Hasjmy

Oleh Muhammad Alkaf

An-Nashr, Ayat 3 – Amang Rahman Jubair
An-Nashr, Ayat 3 – Amang Rahman Jubair

Ibu saya meninggal waktu saya berumur sekitar 4 tahun. Nenek Puteh kemudian pengganti Ibu. Ibu dari Ibu saya ini adalah seorang Muslimat yang “Alim Melayu”, yaitu mempunyai ilmu yang luas dengan perantaraan kitab-kitab yang berbahasa Melayu dan Jawou.

Beliaulah yang menjadi guru saya pertama. Saya masih ingat betul,waktu saya mula-mula diajar “Quran Cut”, yaitu Juz Amma, beliau pertama sekali mengajar Surah Al Alaq, dengan mengajar kami menghafalkannya dan diberi arti dan tafsirnya.  

Ayat 1 – 5 Surah Al Alaq ini, kemudian sangat mempengaruhi kehidupan ilmiyah saya.[1]

 

Paragraf di atas adalah penggalan pendahuluan pidato Ali Hasjmy dalam pembukaan Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, tanggal 15 Januari 1991. Ali Hasjmy, yang memiliki nama kecil Muhammad Ali, sangat menjunjung tinggi Nek Puteh, orang tua yang mendidik Hasjmy setelah ditinggal pergi ibunya. Ali Hasjmy mengakui, bahwa beliau-lah yang membuka dan membimbingnya untuk mengenal dunia melalui dunia pengetahuan.[2]

Lahir di Montasiek, Aceh Besar,  28 Maret 1914, Ali Hasjmy mewarisi darah Pejuang Aceh dari kedua pihak orang tuanya. Dari pihak ayah, ada sosok Pang Abbas, sedangkan dari pihak ibu adalah Pang Husein, panglima perang yang diangkat langsung oleh Panglima Polem dalam menghadapi pasukan kolonial Belanda. Ali Hasjmy begitu sangat terkesan terhadap dua kakeknya itu, melalui Pang Abbas, dia tahu banyak mengenai perjuangan Pejuang Muslimin yang kemudian hari sangat mempengaruhinya di masa mendatang, baik melalui karya-karyanya, maupun melalui aktifitas politiknya. Melalui kakeknya Pang Abbas pula, Ali Hasjmy menuliskan:

 Menurut keterangan kakek saya itu bahwa Kuta Cot Bak U di Montasie telah direbut Belanda, sehingga Markas Besar Habib Abdurrahman yang tadinya bertempat di sana teah dipindahkan ke tempat lain. Pang Abbas  sebagai salah seorang Panglima Balang (Batalyon) dari Surkey (Divisi) Teuku Panglima Polem Muda Perkasa, juga telah hijrah dari Montasie setelah benteng Kuta Cot Bak U yang penting itu jatuh ke tangan musuh. Daerah Indrapuri menjadi benteng setelah pertahanan Montasie jatuh.[3]

Cerita-cerita seperti diatas lah yang kemudian menjiwai Ali Hasjmy untuk terus melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Aceh. Bagi Ali Hasjmy, Belanda adalah musuh, yang harus angkat kaki dari tanah syuhada. Dan hal ini dibuktikan olehnya, di tahun 1942, bersama dibawah pimpinan Tgk. A. Wahab Seulimum dan tokoh-tokoh pemuda,  menyerang rumah Controleur di Seulimeum,[4] ini adalah serangan pertama oleh para pemuda guna mengusir Belanda dari tanah Aceh.

Sikap dan pandangan Hasjmy yang ideologis ini jug dibentuk oleh pendidikan, baik informal maupun formal. Untuk pendidikan informal, Nek Puteh melakukan pembentukan karakter pejuang, dengan membimbing Ali Hasjmy melalui cerita-cerita hikmah dan penuh dengan nilai patriotisme. Bahkan Nek Puteh-lah, di saat para orang tua melarang anak-anaknya masuk ‘sekolah kafir’, yang mendorong Ali Hasjmy untuk masuk sekolah Belanda untuk kaum pribumi tersebut, yaitu Volkschool.[5] Setelah itu, berturut-turut Ali Hasjmy masing-masing menempuh jenjang pendidikan sebagai berikut: Governement Inlandsche School Montasie, Thawalib School Padang Panjang, Perguruan Tinggi Islam, Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam Padang.[6]

Keberangkatan Ali Hasjmy ke Sumatera Barat bagian daripada proyek kebangkitan masyarakat melalui sistem pendidikan modern. Pendidikan modern ini yang berlangsung di Sumater Barat itu sendiri sangat terpengaruh dengan gagasan baru yang berkembang di Timur Tengah kala itu, sehingga kemudian menjadi tempat pekacambahan kelompok intelegensia baru di Aceh.[7] Fragmen keberangkatan Ali Hasjmy ke Sumatera Barat pun ditulisnya dengan sangat baik:

 Masih segar dalam ingatan saya, bahwa “bus carteran” yang membawa kami dilengkapi dengan periuk, belanga, panci, beras, keumamah (ika kayu), sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam. Demikianlah sepanjang jalan pada waktu-waktu makan kami berhenti/istirahat untuk mndapaur/memasak dan kemudian tentunya makan bersama. Suatu kenangan yang indah sekali. Oleh Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda! Kami tidak dimasukkan dalam satu madrasah/sekolah, tetapi ditebarkan ke berbagai madrasah/sekolah. Ada yang dimasukkan ke Perguruan Muslim Bukittinggi, MKI (Moderne Islamic Kweschool), Bukittinggi, Madrasah Thawalib Parabek (dekat Bukittinggi), Madrasah Thawalib Padang Panjang, I.N.S (Indonesche National School) Kayutanam (dekat Padang Panjang).[8]

Pengalaman Ali Hasjmy di atas menunjukkan betapa gelombang angkatan dari kelompok intelegensia baru di Aceh tumbuh dengan sangat subur, dengan memanfaatkan jaringan pendidikan modern, baik di Sumatera Barat maupun di Timur Tengah. Melalui jaringan pendidikan aliiran modernis demikian, maka pembaharuan di bidang agama dan politik dapat dilakukan melalui pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam modern, seperti Jaddam, MIM Lampakuk, Normal Islam Bireuen dan lain-lain.[9] Secara politik-pun, kebangkitan dari kelompok intelegensia ini juga yang mendorong lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang memang sangat memiliki pengaruh dalam reformasi pendidikan modern di Aceh, salah satu prestasinya adala dengan membangun sebuah sekolah guru, yang dinamakan Normal Islam School.[10]

 Saatnya Bergerak: Ali Hasjmy dan Aktifitas Politiknya

 Selepas menyelesaikan pendidikan tahap awal di Sumatera Barat, Ali Hasjmy kemudian menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeum, lembaga ini pun kemudian juga diisi oleh tokoh intelegensia lainnya yang kemudian memiliki peran besar dalam revolusi sosial berikutnya di Aceh, yaitu Ahmad Abdullah dan Said Abu Bakar.[11] Perguruan Islam Seulimeum ini-lah yang kemudian menjadi pelopor pengusiran Belanda dari Aceh melalui serangan menjelang tengah malam yang menewaskan Controleur JC. Tiggelman.[12] Peristiwa penyerangan ini kemudian, tidak  menjadi tonggak keluarnya Belanda dari dan masukknya Jepang ke Aceh, menjadi tonggak peran Ali Hasjmy dalam pergerakan politik di Aceh di kemudian hari dengan menjadi pemimpin Lasykar Rencong, sebuah divisi militer Pesindo  Aceh yang memiliki peran besar sekitar tahun 1945-1949.[13]

Peran Pesindo tersebut dapat dilihat dalam baik dalam hal politik, maupun militer. Secara politik, Pesindo memiliki kekuatan sebagai salah satu faksi yang memberi tekanan kepada pihak Jepang dan juga ikut mempertahankan Propinsi Aceh pertama, sedangkan secara militer, organisasi Pesindo, dengan Divisi Rencongnya, berhasil memberikan peran yang besar terhadap kemenangan Perang Medan Area dan juga menyelamatkan tambang minyak di Pangkalan Berandan.[14]

Pesindo menjadi organisasi yang sangat kuat, karena dibangun secara modern, karena organisasi ini memiliki struktur yang sangat rapi. Misalnya saja, organisasi ini memiliki beberapa divisi yang sangat strategis, seperti militer yang dipimpin oleh Nyak Neh Lho’nga, bidang siasat yang dipimpin oleh Tgk. M. Ali Piyeung, maupun bidang penerangan yang dipimpin oleh A. Gani Mutiara.[15]

Selain aktif dalam dunia pergerakan, Ali Hasjmy juga dikenal sebagai wartawan. Bahkan dalam satu kesempatan, Ali Hasjmy pernah mengatakan bahwa dia lebih ingin dikenal sebagai wartawan daripada seorang pejabat. Sebab, lanjutnya, akan ada mantan pejabat, akan tetapi tidak istilah mantan wartawan. Kemampuan Hasjmy di bidang jurnalistik, yang kemudian di masa-masa berikutnya di terjemahkan dengan membangun Fakultas Dakwah dan Publisitik, dibangun dengan kemampuannya dalam dunia mengarang yang luar biasa. Bahkan mlalui dunia mengaranglah, Hasjmy bisa menyelesaikan pendidikannya di Sumatera Barat, setelah sebelumnya, orang tuanya tidak mampu lagi membiayai akibat bangkrut:

 Tahun 1938, tahun pertama saya belajar di Al Jami’ah Al Islamiyah, adalah tahun percobaan berat bagi saya. Menjelang akhir 1938, orang tua saya (Teungku Hasyim bin Abbas) jatuh dalam perniagaan. Hal tesebut diberitahukan kepada saya dengan mengirim sebuah wesel untuk ongkos pulang. Dengan demikian, saya harus tidak melanjutkan studi. Berat, sungguh berat!

 Malamnya saya shalat istikharah meminta tuntunan Allah atas keputusan yang akan saya ambil. Menjelang shubuh malam itu juga saya mengambil keputusan, yaitu tidak akan pulang ke Aceh, saya akan melanjutkan studi! Besoknya, saya mengirim surat kepada Ayah memberitahu tentang keputusan saya itu dan memohon doa restunya.

 Biaya yang dikiri ayah  untuk ongkos pulang, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk belanja hidup, yang nyatanya cukup untuk tiga bulan dengan kadang-kadang (bahkan sering) makan hanya satu kali dalam sehari.

 Masa-masa yang sulit mendorong mencari jalan keluar. Pada waktu sulit, Allah melapangkan jlan bagi hambanya yang tabah dan taat: Inna ma’al usri yusra (sungguh, kesulitan akan melahirkan kemudahan).[16]

Kemudian, keadaan ekonomi yang sulit itulah, membuat Hasjmy mencari uang secara mandiri dengan aktif memproduksi karangan. Dengan usahanya yang berlipat ganda itulah, maka dua karangan dia; Dewan Sajak dan Melalui Jalan Raya Dunia diterbitkan oleh Centrale Courant dan N.V. Indische Drukkerij, setelah itu pula, novel Suara Azan dan Lonceng Gereja juga diterbitkan oleh N.V. Syarikat Tapanuli, ketiga penerbit itu berada di Sumatera Utara.[17] Dengan diterbitkan karangan-karanganya tesebut, maka Hasjmy dapat memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikannya, sehingga dapat menyelesaikan studinya di Al Jamiah Al Islamiyah.

Karena kemampuannya Ali Hasjmy dalam usaha mengarang, itu pula-lah membawanya kemudian diangkat oleh Pemerintah Jepang untuk membantu penerbitan surat kabar Aceh Sinbun, dan berikutnya Ali Hasjmy diangkat menjadi pemimpin umum setelah setahun pengangkatannya sebagai redaktur media tersebut.[18]

Surat kabar Aceh Sinbun ini kemudian memiliki peran besar dalam mengambil posisi politik untuk mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah mendapat berita proklamasi pada tanggal 21 Agustus 1945, maka di bertempat di ruangan redaksi Aceh Sinbun, dipimpin oleh Ali Hasjmy, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan media tersebut, diadakan rapat yang dihadiri oleh 10 pemuda Indonesia terkemuka untuk menentang kembalinya Belanda ke Aceh.[19] Setelah selesai Perang Dunia Ke-II, Aceh Sinbun berubah nama menjadi surat kabar Semangat Merdeka, media ini memiliki jasa besar dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan dengan memuat berita mengenai Pemerintah Pusat di Yogyakarta dan perjuangan orang Aceh dalam melawan agresi-agresi Belanda.[20]

Selain aktif dalam dunia pergerakan, pendidikan dan jurnalisme, Hasjmy juga pernah menjadi Kepala Jawatan Sosial keresidenan Aceh , dan pada fase ini-lah persoalan krusial di Aceh yang dihdapi oleh Hasjmy kelak. Diawali dengan pembubaran Propinsi Aceh melalui Peraturan Pemerintah Peganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950 yang berisi:

  1. Mencabut Peraturan Wakil Perdana Menteri peganti Peraturan Pemerintah No. 8/Des/WPM tahun 1949 tentang pembagian Sumatera Utara menjadi dua propinsi.
  2. Mengesahkan penghapusan pemerintahan daerah keresidenan Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli, serta pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat daerah-daerah tersebut.
  3. Menetapkan pembentukan propinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.[21]

Penghapusan Propinsi ini kemudian memunculkan ketegangan bagi rakyat Aceh, pengorbanan yang  yang diberikan selama revolusi fisik kemudian tidak dihargai oleh Pemerintah Pusat ketika Aceh dileburkan menjadi bagian dari Sumatera Utara, sehingga terjadi-lah pemberontakan Darul Islam Aceh pada tanggal 21 September 1953.[22] Pemberontakan tersebut sudah diprediksi oleh Ali Hasjmy, sehingga kemudian dia menulis surat kepada Pemerintah Pusat untuk mengingatkan kemungkan pemberontakan itu;

 Sesungguhnya saya tidak menyatakan keyakinan, tetapi saya hanya mengatakan, bahwa jika sekiranya hal-ha atau akibat langsung dari revolusi yang sekarang telah diungkit-ungkit kembali, tidak segera diselesaikan, keadaan bukan bertambah aman, akan tetapi akan bertambah rumit dan kacau yang akan menuju keruntuhan.[23]

Walau-pun Ali Hasjmy tidak ikut dalam pemberontakan tersebut, namun 3 hari setelah proklamasi DI/TII Aceh, dia ditangkap, atas tuduhan terlibat dalampemberontakan yang dipimpin oleh Tgk. Daud Beureuh.[24] Proses penangkapannya itu diceritakan dalam sebuah buku yang berisi surat-surat kepada putrinya yang baru berusia empat bulan. Surat yang sebenarnya tidak pernah dikirim untuk putrinya tersebut. Berikut penulis kutip dengan agak panjang peristiwa penangkapan itu:

 Anakku yang budiman

 Pada tanggal 20 September 1953, di Aceh pecah pemberontakan melawan Pemerintah Pusat dibawah pimpinan seorang Ulama Besar Teungku Muhammad Daud Beureuh , yang kemudian dikenal dengan sebutan: Peristiwa DI/TII, karena mereka telah memproklamirkan Aceh lepas dari Republik Indonesia.

 Tentu engkau, anakku manis, belum lupa bahwa ayahda sedang bertugas di Medan sebagai Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara.

 Tanggal 23 September 1953, kira-kira pukul 11 siang ayahda ditangkap atas perintah Kepala Polisi Sumatera Utara. Karena dituduh terlibat dalam peistiwa DI/TII yang baru tiga hari yang lalu pecah di Aceh. Waktu itu ayahda baru pulang dari Belawan untuk mengurus para pengungsi yang baru datang dari Aceh; di kantor ayahda telah menanti seorang Inspektur Polsi dengan dua orang pembantunya.

 Inspektur Polisi tersebut dengan sikap sebagai seorang polisi memperlihatkan “surat perintah-tangkap”  kepada ayahda, dimana ayahda terima dengan tenang sebagai suatu “qadla-adar” dari Allah. Penahanan dan penagkapan bagi ayahda bukan soal baru; kaena waktu zaman penjajahan Belanda di Indonesia ayahda pernah berkali-kali berurusan dengan polisi kolonial Belanda, bahkan pernah ayahda ditangkap, ditahan dan dipenjarakan beberapa bulan setelah diajukan ke depan pengadilan kolonial di Padang Panjang, ayahda waktu itu sedang menghadapi ujian akhir  dari Madrasah Thawalib bagian Sanawiyah (Menengah). Sebagai seorang anggota pimpinan dari H.P.I.I (Himpunan Pemuda Islam Indonesia) ayahda dituduh melanggar undang-undang Hindia Belanda; undang-undang kolonial!.[25]

Di dalam penjara, Ali Hasjmy berusaha menjelaskan secara baik apa yang sedang dia hadapi, bertemu dengan banyak orang, berkisah tentang beragam peristiwa, linangan air mata dan tawa riang. Beragam suasana itu dapat kita baca di dalam salah satu surat yang berjudul Manusia dan Lingkungannya.[26] Tidak seperti surat-surat lain yang ditulis dalam satu waktu, pada bagian ini surat ditulis sejak tanggal 3 November- 31 Desember 1953, Hasjmy menyuratkan tentang betapa kerasnya hidup dalam penjara; tentang bersilangnya kabar mengenai status tahananan, atau satu waktu para  tahanan politik pemberontakan Aceh dilarang menerima tamu, sampai kepada para tahanan yang mulai terganggu kejiwaannya akibat tekanan hidup dalam penjara.

Namun demikian kerasnya kehidupan di dalam penjara, Hasjmy memberikan pemaknaan tersendiri terhadap penjara yang dituangkan dalam salah satu suratnya yang berjudul Manusia dan Penjara.[27] Beginilah ungkapan Ali Hasjmy;

 …Demikianlah, manisku sayang, semenjak ditawan selama lebih tiga bulan, ayahda tidak merasa seperti dalam penjara, tidak pernah merasa kehilangan kebebasan. Ayahda merasa diri bebas sebebas-bebasnya. Dengan perantaraan surat-surat ayahda bebas mengadakan hubungan dengan engkau, ibu dan abang-abangmu, manisku. Ayahda bebas memberi pelajaran-pelajaran Islam kepada teman-teman setahanan, kepada orang-orang hukuman.

 Sekalipun tubuh kasar ayahda berada dalam apa yang mereka namakan penjara, namun jiwa dan pikiran ayahda tetap merasa tidak terkurung; tidak ada siapapun yang sanggup menarnatai atau membelenggu jiwa dan pikiran ayahda, kecuali Allah Maha Pencipta.

Setelah berada di dalam penjara selama 10 bulan, Ali Hasjmy di bebaskan tepatnya di bulan Juni 1954 karena dalam pemeriksaan tidak terlibat dalam gerakan DI/TII, dan sebagai pegawai negeri, maka dia dipindahkan ke Departemen Sosial di Jakarta.[28] Dalam  “pengasingannya” di Jakarta inilah pemberontakan DI/TII semakin kuat, sehingga di tahun 1956, status propinsi Aceh dikembalikan, dan Ali Hasjmy sebagai Gubernurnya. Artinya dalam sejarah Propinsi Aceh pertama, maka Ali Hasjmy adalah Gubernur kedua setelah Tgk. Muhammad Daud Beureuh. Ditunjuknya Ali Hasjmy sebagai Gubernur satu hal yang tepat, karena selain reputasinya yang tinggi sejak zaman revolusi fisik, juga Hasjmy memiliki kedekatan dengan kelompok DI/TII.[29]

Ketika diminta oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi Gubernur Aceh, maka Hasjmy mengatakan sebuah kalimat yang sangat penting “Saya bersedia menjadi Gubernur, akan tetapi saya tidak mebawa api, melainka membawa air”, sehingga kebijakan pertamanya dalam menyelesaikan pemberontakan DI/TII Aceh adalah dengan menghubungi beberapa tokoh penting dalam tubuh gerakan tersebut seperti Tgk. Ali Piyeung, dan A. Jalil Amin. [30]

Upaya pendekatan melalui kedua sahabat lamanya itu kemudian menuai hasil yang sangat positif, bila sebelum ketegangan militer yang terjadi sangat kuat, maka semenjak Ali Hasjmy menjadi Gubernur, upaya dialogis dengan pendekatan kebudayaan menjadi lebih kuat, dan kemudian hal tersebut diterjemahkan dalam sebuah gencatan senjata (cease fire) yang dinamakan Ikrar Lamteh:

 Bismillahirrahmanirrahim

Kami Putera-Putera Aceh, di pihak mana pun kami berada, akan berjuang sungguh-sungguh untuk:

  1. Menjunjung tinggi kehormatan agama Islam
  2. Menjunjung tinggi kehormatan dan kepentingan rakyat Aceh
  3. Menjunjung tinggi kehormatan dan kepentingan daerah Aceh.[31]

Gencatan senjata ini sebenarnya sempat buntu, sampai kemudian Pawang Leman, tentara DI/TII dan juga tokoh masyarakat mengatakan dengan keras

Kalau bapak-bapak tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, mari kita bakar saja Aceh ini suapaya kita puas dan agar cucu di belakang hari akan menuduh kita sebagai pengkhianat dan orang yang tidak bertanggung jawab!.

Ikrar lamteh ini kemudian digambarkan dalam sebuah piagam yang sangat memiiki makna yang sangat filosifis dan yang lebih penting lagi, Ikrar Lamteh itu sendiri mampu dilahirkan antara orang Aceh sendiri tanpa ada pihak yang memediasi, suatu kajian menarik dalam sebuah resolusi konflik.

Ali Hasjmy sendiri dalam sendiri dalam khutbah Idul Fitri di tahun 1959  mengatakan bahwa Ikrar Lamteh itu sendiri memiliki pokok pikiran untuk pemajuan agama Islam, pembangunan Aceh dan pembahagiaan rakyatnya.[32]

Semangat ikrar lamteh ini kemudian, satu tahun berikutnya yang menjiwai  pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Penghentian permusuhan kemudian benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan pembangunan, dan yang menariknya pembangunan yang dilakukan oleh pemimpin Aceh kala itu adalah pembangunan karakter dan jiwa manusia Aceh. Ada keinginan kuat untuk membawa Aceh masuk ke alam peradaban baru, sehingga kemudian dipilihlah untuk diadakan Pekan Kebudayaan Aceh-1 di tahun 1958.

Dalam buku  laporan PKA-3,[33] kegiatan PKA-1 bisa bergerak karena dengan dorongan ketiga pejabat Aceh saati itu, Gubernur Ali Hasjmy, Pangdam Iskandar Muda Letkol Syamaunl Gaharu dan  Kasdam Iskandar Muda, Mayor  T. Hamzah.  Dijelaskan juga dalam laporan tersebut, bahwa PKA-1 dilaksanakan karenan beberapa hal; pertama, sebagai lanjutan dari usaha dalam upaya mewujudkan keamanan dan pembangunan Aceh. Kedua, adanya upaya membangun kebudayaan nasional melalui penggalian kebudayaan daerah. Ketiga, adanya kesadaran tentang kejayaan masa lampau yang menjelaskan Aceh kaya akan budaya. Kesadaran yang membuat PKA-1 begitu cepat sambutan dari masyarakat.

PKA-1 pun semakin memperjelas tentang visi Aceh kala itu, bahwa pembangun jiwa bangsa adalah menjadi agenda utama dengan membangun Perguruan Tinggi di Banda Aceh. Ketika di sela-sela acara tersebut, Mentei Agama K. H. Ilyas di tanggal 17 Agustus 1958 meresmikan batu pertama pembangunan Kopelma Darussalam. Selanjutnya pada penutupan PKA-1, giliran Menteri PP&K Dr. Priyono yang hadir ke Darussalam untuk meletakkan batu pertama pembangunan Kota Pelajar dan Mahassiwa (Kopelma), seraya menyetujui penamaan Darussalam (wilayah damai) sebagai lawan dari Darl Harb, yang dimaknai sebagai wilayah perang.[34]

Pendirian Kopelma Darussalam sebenarnya adalah cita-cita kelompok intelegensia Aceh yang tertunda, akibat terus berada dalam keadaan perang yang tak berkesudahan. Selain itu pula, pendirian Darussalam meruapakan sebuah kerja besar untuk membangun Aceh yang hancur akibat perang semenjak zaman perang kolonial, sehingga dalam sambutannya, Ali Hasjmy mengatakan tentang Darussalam sebagai berikut:

Tjita-tjita yang terkandung didalam dada pemimpin-pemmpin dan rakjat Atjeh dengan pembangunan “Darussalam”, ialah karena dorongan dan kesdaran hendak mendjadikan hari-depan Atjeh, selaku bagian Republik Indonesia, kembali megah dan berbahagia seperti zaman-zaman kebesaran dahulu, dengan tudjuan,  bahwa disamping akan mendjadi sebuah mata-air ilmu pengetahuan, “Darussalam” djuga merupakan suatu lembaga, dimana manusia-manusia baru jang berdjiwa besar, berbui luhur, dan berpengalaman luas dilahirkan.[35]

Disini bisa kita lihat bagaimana visi A. Hasjmy dalam membangun sebuah masyarakat melalui kebangunan jiwa dan akal budi, dan hal itu dapat dilakukan dengan memperbaiki pikiran dan hati melalui dunia pendidikan.  Sehingga kemudian bisa mengalihkan dan memindahkan sebuah situasi dari kekalutan yang akut menuju kedamaian yang hakiki. Dan yang suatu hal yang patut dicatat, Kopelma Darussalam dibangun untuk menuju cita-cita pembangunan, pesan yang disampaikan oleh Bung Karno, 2 September 1959:

 …Kota Pelajar/mahsiswa Darussalam, Pusat pendidikan di daerah Aceh, sebagai lambang iklim dalamai dan suasana persatuan adn eksatuan, sebagai hasil kerjsaama antara Rakyat dan para Pemimpin Aceh, sebagai modal pembangunan dan kemajuan bagi daerah Aceh khususnja dan bagi seluruh Indonesia umumnya.[36]

Tekad ini pula, dalam bahasa yang sangat terkenal,  yang disebut Bung Karno dalam pembukaan Kopelma Darusalam sebagai pelaksanaan cita-cita, melalui tekad yang bulat, tekad yang keras yang dimiliki oleh Aceh.[37] Dalam kesempatan yang berbeda, Ali Hasjmy menjelaskan tentang tujuan Kopelam Darussalam adalah untuk membangun Manusia Pancasila yang berijwa besar, memiliki pengetahuan yang luas serta berakhlak mulia, maka demikian, Kopelma Darussalam diharapkan dapat membangun manusia Berketuhanan yang Maha Esa, Berperi Kemanusiaan, Berkebangsaan Indonesia, Berpaham Kerakyatan, Berkeadilan Sosial, Berjiwa Besar, Berpengetahuan luas dan Berakhalak Mulia,[38] selain itu, Darussala adalah masa depan  Aceh yang gemilang.[39]

Lebih jauh, Ali Hasjmy menegaskan bahwa Darussalam memiliki konsepsi yaitu  dianya tidak hanya sebagai pusat kegiatan ilmu, melainkan juga sebagai doktrin pendidikan dan sumber cita (cita disini dimaknai oleh Ali Hasjmy sebagai ideologi),[40] yang kemudian memiliki hubungan dengan filsafat Pancasila, dalam pemaknaan Ali Hasjmy, filsafat Pancasila itu memiliki arti;  

  1. Tiap manusia harus mengabdi dan bertaqwa kepada Allah, berlandaskan suatu kejakinan “Tauhid” jang benar.
  2. Tiap manusia harus mengamalkan segala adjaran Allah jang telah ditetapkan dalam Sjari’atnja, baik ibdah maupun mua’ammalah.
  3. Tiap manusia harus mendjauhkan segala perbuatan mungkar dan maksiat.[41]

 Darussalam dalam pemaknaan Ali Hasjmy berikutnya adalah sebagai tempat mencetak pemimpin Aceh di masa depan, yang disebutnya sebagai Angkatan Darussalam, yaitu sebuah generasi baru setelah Angkatan 45, yang diharapkan mampu membangun hubungan antara ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan pengalaman di masyarakat guna menjadi pemimpin.[42] Dalam penjelasannya yang lebih lanjut mengenai Angkatan Darussalam, setelah pidatonya tanggal 27 Agustus 1986 mengenai istilah tersebut mendapat sambutan banyak pihak, Ali Hasjmy mengurai bahwa Angkatan Darussalam adalah pertama,  putera-puteri Indonesia yang lahir di Aceh  setelah tanggal 26 Mei 1959, ketika Aceh menjadi daerah damai (Darussalam) dan menjadi daerah istimewa, kedua, putera-puteri Indonesia yang berasal atau tinggal di Aceh, yang telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, baik di Aceh, Indonesia maupun di luar negeri.[43]

Kecintaannya kepada dunia pendidikan tidak saja ditunjukkan dengan menjadi pelopor pembangunan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma), yang dimana di dalamnya terdapat dua perguruan tinggi, Universitas Syiah Kuala dan IAIN A-Raniry, melainkan juga membangun sebuah yayasan pendidikan, yang bernama Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Yayasan ini dibangun pada tanggal 25 Januari 1991,[44] di atas kesadaran bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan mesti terus dijalan. Selain itu pula, bagi seorang Ali Hasjmy, pembangunan yayasan ini didasari atas kegelisahannya yang berlipat-lipat. Dalam pidato sambutan di ulang tahun ke-4 Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, dia menuturkan:

 Setelah berusia lanjut, setelah hari-hari  “dunia saya” mendekatai SENJA, ketenangan hidup terusik oleh kekayaan yang saya miliki berupa kitab/buku yang hampir 30.000 jilid, naskah-naskah tua/manuskrip yang cukup banyak yang mengandung  bermacama disiplin ilmu: Filsafat, Farmasi, Kedokteran, Sejarah, Tafsir dan sejumlah  MUSHAF/AL QURANUL KARIM tulisan tangan yang berusia ratusan tahun, disamping benda-benda budaya dan senjata-senjata warisan Perang Aceh.

Akan menjadi barang luakkah kekayaan saya yang amat bernilai itu? Demikian hati saya bertanya entah kepada siapa. Atau ia akan menjadi makanan rayap, setelah saya sudah tiada? Gelisah, terus gelisah! Hati saya tetap dilanda ketakutan!

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan buah kegelisahan itu terjawab, dengan terbentukny Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, dengan usahanya pertma pendirian sebuah Perpustakaan dan Museum, sebagai Sarana Pendidikan, Sarana dunia saya: DUNIA PENDIDIKAN.[45]

Pendirian Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy begitu diaspirasi oleh bebagai kalangan, Muhammad TWH, wartawan Aceh yang bermukim di Medan menyebutkan bahwa keberadaan Museum Hasjmy sebagai sarana komunikasi dan pendidikan yang penting, di saat masyarakat sedang menggalakkan peningkatan ilmu pengetahuan dunia dan akhirat.[46] Hal yang lebih kurang sama yang disampaikan oleh Menteri Negara Urusan Wanita  (UPW), Ny. Sulaskin Murprtomo ketika mengunjungi  Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, baginya keberadaan lembaga tersebut untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.[47]

Menurut laporan resmi dari pengurus, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy memiliki susunan koleksi sebagai berikut: buku-buku dalam berbagai bahasa, Arab, Inggris, Indonesia dan lain, yang berbicara tentang berbagai ilmu. Kemudian museum di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga menyimpan benda-benda bersejarah, naskah-naskah tua, album-album foto dan makalah serta seminar kit.[48]

Kemudian, selain menjadi perpustakaan dan museum, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga menjadi pusat khazanah Melayu.[49] Pendirian khazanah Melayu ini didorong oleh sebuah gerakan kebudayaan yang disebut oleh Ali Hasjmy sebagai “Dunia Melayu Raya”, yang akan mengintegasikan kebudayaan di dalam kawasan ASEAN melalui persamaann bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia, Singapura, Thailand dengan bahasa Indonesia, dan bahkan gerakan kebudayaan ini akan semakin menguatkan peran ASEAN,[50]

Gerakan kebudayaan yang dinamakan “Dunia Melayu Raya” itu sebenarnya berkelindan juga dengan keberadaan Lembaga Kebudayaan Aceh (LAKA). Sebuah lembaga kebudayaan yang bekerja untuk memproduksi pengetahuan pada tema-tema kebudayaan, humaniora, sastra dan sejarah. LAKA ini sendiri lahir dari rekomendasi Seminar Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan di Takengon 1986, yang dihadiri dari berbagai utusan dalam dan luar negeri, sehingga LAKA diharapkan kehadirannya dapat membina kembali adat dan kebudayaan Nusantara.[51]  Dalam konteks dunia Melayu Raya, LAKA diharapkan dapat menjadi jembatan dunia Melayu di atas Selat Melaka, Selat Jawa dan Sunda, Selat Bali, Selat Nusantara Barat dan Timur, Selat Kalimntan, Selat Ambon, Selat Teluk Cendrawasih dan di atas laut yang membentang antara Sulawesi dan Filipina Selatan.[52]

Upaya LAKA untuk menjembatani hubungan Aceh dan Dunia Melayu salah satunya dengan penerbitan sebuah pamflet yang berjudul Aceh dan Pahang, yang memuat tiga buah artikel mengenai Putri Pahang dan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Tsani sebagai simbol persudaraan Aceh dan Pahang, serta hubungan antara Aceh, Perak, Bugis dan Pahang. [53] Keberadaan pamflet itu menjelaskan bagaimana upaya untuk menarik garis kesamaan antara Aceh dan Dunia Melayu melalui eksplorasi sejarah dan kebudayaan.

Selain itu, yang patut diberi perhatian adalah kebepihakan Ali Hasjmy terhadap sejarah Aceh begitu tinggi.[54] Keyakinannya bahwa Aceh memiliki masa lalu yang gemilang, tidak hanya saja dengan menuliskan roman biografi Iskandar Muda dengan sangat baik,[55] namun juga kegemilangan Aceh di bawah kepemimpinan Ratu[56] dan Laksamana Malahayati.[57] Bahkan dalam sebuah kuliahnya di hadapan pengurus Kohati HMI Cabang Banda Aceh, Ali Hasjmy memaparkan secara lebih detil tentang posisi perempuan dalam sejarah Aceh. Melalui Jalaluddin Tursina yang mengarang kitab Safinatul Hukkam, Ali Hasjmy mengatakan bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, bahkan dalam soal kedudukan sebagai kepala negara, bahkan dalam Majelis Mahkamah Rakyat di zaman Ratu Safiatuddin, ada 17 perempuan dari 73 anggota lembaga tersebut.[58]

Ali Hasjmy juga banyak memproduksi pengetahuannya mengenai kebudayaan, selain itu dia juga memiliki perhatian terhadap banyak tema; Islam, politik, sejarah, sastra, ilmu dakwah dan lain-lain. Daftar buku-buku dengan tema beragam ini bisa kita lihat dalam artikel penting dari Syahbuddin Gade dan Abdul Ghafar Don[59] sebagai berikut:

  1. Kisah seorang pengembara, sajak, Pustaka Islam, Medan 1936
  2. Sayap terkulai. roman ini ditulis di 1938.
  3. Dewan sajak, Centrale Courant, Medan 1938.
  4. Bermandi cahaya bulan, Indiche Drukrij, Medan 1939.
  5. Melalui jalan raya dunia, roman masyarakat, diterbitkan oleh Indiche Drukrij, Medan 1939
  6. Suara azan dan lonceng gereja, Syarikat Tapanuli 1940.
  7. Cinta mendaki, gagal diterbitkan
  8. Dewi Fajar, Aceh Simbun, Banda Aceh 1943.
  9. Tanah Merah, Bulan Bintang, Jakarta 1950.
  10. Meurah Johan, Bulan Bintang, Jakarta 1950.
  11. Pahlawan-pahlawan Islam yang gugur, buku saduran dari bahasa Arab, Bulan Bintang 1956
  12. Kerajaan Saudi Arabia, Bulan Bintang, Jakarta 1957.
  13. Rindu bahagia, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  14. Jalan kembali, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  15. Semangat kemerdekaan dalam sajak Indonesia Baru, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  16. Sejarah kebudayaan dan tamadun Islam, Penerbit IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh 1969.
  17. Yahudi bangsa terkutuk, Pustaka Faraby, Banda Aceh 1970.
  18. Sejarah hukum Islam, Majlis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1970.
  19. Hikayat perang sabi menjiwai perang Aceh lawan Belanda, Pustaka Faraby.
  20. Islam dan ilmu pengetahuan modern, buku terjemahan dari bahasa Arab, Pustaka Nasional, Singapura 1972.
  21. Rubaci Hamzah Fansury karya sastera sufi Abad XVII, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1974.
  22. Sejarah kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1975.
  23. Iskandar Muda Meukuta Alam, Bulan Bintang, Jakarta 1977.
  24. Sumbangan kesusastraan Aceh dalam pembinaan kesusastraan Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
  25. Langit dan para penghuninya, buku terjemahan bahasa Arab, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
  26. Apa Sebab al-Qur’ān tidak bertentangan dengan akal, buku ini terjemahan dari bahasa Arab,Bulan Bintang, Jakarta, 1978.
  27. Nabi Muhammad sebagai panglima perang, Mutiara, Jakarta 1978.
  28. Mengapa ibdah puasa diwajibkan, buku ini terjemahan dari bahasa Arab, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  29. Cahaya kebenaran, buku ini terjemahan al-Quran Juz Amma, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  30. Surat-surat dari tanah suci, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  31. Sejarah masuk dan kerkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung 1981.
  32. Mengenang kembali perjuangan misi Haji RI ke-II, Al-Ma’arif, Bandung 1983
  33. Benarkah Dakwah Islamiyah bertugas membangun manusia, Al-Ma’arif, Bandung
  34. Kesusasteraan Indonesia dari zaman ke zaman, Beuna, Jakarta 1983.
  35. Sejarah kesusasteraan Islam/Arab, Beuna, Jakarta 1983.
  36. Hikayat Pocut Muhammad dalam Analisa, Beuna, Jakarta 1983.
  37. Publisistik dalam Islam, Beuna, Jakarta 1983.
  38. Syiah dan ahlussunnah saling rebut pengaruh di Nusantara, Bina Ilmu, Surabaya 1984.

Selain daftar karya di atas, kita juga bisa mendapati beberapa buku-buku Hasjmy dalam berbagai tema yang luas, sebagaimana yang disusun oleh Wildan,[60] sebagai berikut:

  1. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Bulan Bintang, Jakarta, 1974.
  2. Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1981.
  3. Apa Tugas Sastrawan sebagai Khalifah Allah, Bina Ilmu, Surabaya, 1984.
  4. Semangat Merdeka, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.
  5. Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta 1990.
  6. Malam-Malam Sepi di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, Banda Aceh, 1992.
  7. Mimpi-Mimpi Indah di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta, Banda Aceh, 1993.
  8. Orang Sakit di Kota Singa, 1994.
  9. Semakin Terasa Kebesaran-Mu ya Allah, Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Band Aceh 1997.
  10. Ulama Aceh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamaddun Bangsa, Bulan Bintang, Jakarta, 1997.

 Dustur Dakwah: Keilmuwan Dakwah yang Berketuhanan dan Berkebudayaan

Katakan: inilah jalanku; aku dan pengikutku dengan sadar mendakwahkan kamu menuju Allah. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk dalam golongan orang-orang musyrik (Surat Yusuf/12: 107)

Ayat di atas adalah permulaan dalam bab Pengertian dan Tujuan Dakwah dari buku Ali Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Quran.[61] Buku ini, sebagaimana penjelasan Ali Hasjmy dalam bab Pengantar, sudah disusunnya sejak tahun 1971, namun terus tertunda, sampai akhirnya dia mendapatkan pengalaman yang besifat eksistensialis ketika melihat kesungguhan para suster Katolik dalam menyampaikan ajaran Nasraninya, yang akhirnya mendorongnya menulis dan menyelesaikan buku ini.[62]

Ali Hasjmy kemudian memulai bahwa penjabaran surat al Fatihah, sebagai intisari dakwah islamiyah itu sendiri,y ang dimana tujuan dakwah islamiyah  adalah ajakan dan arahan kepada manusia untuk mengambil ajaran Allah yang termaktub di dalam Al-Quran.[63]  Lalu kemudian Ali Hasjmy menjelaskan dengan adanya kewajiban membaca al-fatihah 17 kali sehari bagi muslim dalam shalat, maka demikian telah menghayati intisari dari tujuan dakwah islamiyah itu sendiri, sebagai kemestian agar dakwah islamiyah bisa berjalan.[64]

Melalui Al-Quran pula, Ali Hasjmy berusaha untuk menempatkan bagaimana gagasan dakwah islamiyah dalam konteks keilmuwan. Hal ini bisa dilihat dari upaya kerasnya untuk menyamakan padanan kata dakwah dengan publistik:

Laksanakan dakwah (publisistik) ke DjalaN Tuhanmu dengan bidjaksana, bersendikan adjaran jang indah dan berpolemiklah dengan tjara jang indah, dan berpolemiklah dengan tjara jang terbaik. (An Nahl: 125).[65]

Upaya Hasjmy untuk memberikan makna yang sama antara dakwah dan publisistik dipahami sebagai usahanya untuk meletakkan dakwah dalam kerangka ilmu sekaligus actie. Hal ini dinyatakannya berikut ini:

Karena itu, Fakultas (Dakwah –tambahan penulis) dan Publisistik dalam melaksanakan pendidikan tingginja, bukanlah suatu fakultas jang berprinsip: “Ilmu untuk Ilmu”, tetapi ia adalah suatu fakultas jang berpendirian: “ilmu untuk diamalkan”.

Disamping memberi teori-teori ilmu dalam tingkat tinggi, djuga memberi latihan praktis dalam mengamalkan ilmu itu, sehingga dia otomatis ilmijah, teoritis dan amalijah, praktis bersama-sama sebagai kebulatan ilmu diadjarkan dan diamalkan dalam “Fakultas Dakwah/Publisistik” ini.

Tegasnja, bahwa Fakultas Dakwah dan Publisistik bertudjuan, untuk mendidik dan mentjetak para “DU’AH MUSLIMIN” (Publisisten Islam) jang memiliki sjarat-sjarat seperti jang dikehendaki Allah, baik mereka sebagai “Mursjid Lisan” (Chatib), ataupun sebagai “Mursjid Tulisan” (wartawan), bahkan djuga sebagai “Mursjid Pendidikan” (Pengadjar/Dosen) atau sebagai “Mursjid Amm” (Pemimpin Organisasi).[66]

Pandangan dakwah Ali Hasjmy pun dihubungkan dengan kebudayaan Islam itu sendiri, yang menariknya terjemahan kebudayaan itu sendiri tidak hanya melalui usaha-usaha penelitian semata, melainkan juga dengan kegiatan dakwah yang bersifat bil-hal: pelaksanaan PKA, pembentukan LAKA, penganugerahan gelar adat, pemakaian pakaian adat, pembangunan kubah mesid bermotif Aceh, pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara dan pendirian Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.[67]

Hasjmy memberi pengertian bahwa dakwah islamiyah memiliki kesamaan dengan pengertian fisabilliah, sehingga memiliki implikasi yang sangat luas, karena kemudian Ali Hasjmy memaknai Dakwah Islamiyah sebagai keuniversalan ajaran Islam yang meliputi keimanan, sosial, politik, akhlak, keperibadian dan kemanusiaan.[68] Berikut uraiannya mengenai definisi dakwah islamiyah itu:

Ada jang harus diperhatikan, jaitu bahwa “Dakwah Islamijah” sama artinja dengan “Sabilillah”. Sudah amat djelas dan tidak dapat diagukan lagi, bahwa ajat2 Al Quran mendjadika pengertian “Sabilillah” sama dengan “Thariq Allah, “Dakwah Islamijah”, Din-Nja dan adjaran2 Nja jang berhubungan dengan keimanan, achlak, kemasjarakatan, kemanusiaan, politik dan pendidikan jang banjak terkandung dalam al Quran dan Rasul mengadjak  manusia melaksanakannja, atau dengan akta jang lain dapat disebut: Dakwah Islamijah itu sendiri.

Djadi, Dakwah Islamijah atau Sabilillah mengandung pengertian: panggilan ke arah pembebasan dari perbudakan hawa nafsu dan kedjahatan; panggilan untuk mengikat persatuan dan kesatuan ummat manusia serta persaudaraan umum, dengan djalan menganut satu agama di bawah naungan  bendera Alquran dan Ketuhanan Jang Maha Esa: dengan djalan kesatuan asas, kesatuan kewadjiban, kesatuan adjaran dan kesatuan pandangan jang bertaut dengan keimanan, politik, sosial, achlak, kepribadian dan kemanusiaan, jang kesemuanja akan memperkuat persaudaraan umum, persamaan sedjati dan djaminan sosial, jang bersendikan  tjintakasih, gotongrojong, dan saling maaf, dimana tidak ada lagi perbedaan ummat manusia dan tidak lagi kasta2.[69]

Uraian di atas  adalah upaya keras Ali Hasjmy untuk membawa pengertian dakwah islamiyah ke dalam berbagai bidang kehidupan, yang bahkan secara terang dan lugas, dia juga memasukkan pengertian dakwah ke dalam pandangan Islam sebagai ajaran yang universal; yaitu sebuah pandangan yang meyakini bahwa Islam ada sekumpulan ajaran yang lengkap dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia.

Pandangan keislam Hasjmy demikian tentu tidak mengejutkan, seperti yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini bahwa sebab sejak muda, Hasjmy sudah terlibat dalam pergerakan organisasi Islam seperti PUSA dan Pesindo. Khusus untuk Pesindo, Ali Hasjmy bersama tokoh-tokoh lain seperti Tgk. Ali Piyeung dan Jalil Amin menempatkan sebagai organisasi yang berbeda secara ideologi dengan Pesindo di kepengurusan pusat. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kesempatan oleh Hasmy sendiri, diantaranya dalam ceramahnya dihadapan para Taruna AKABRI di Magelang; bahwa perubahan nama Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1945, menjadi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), ikut mengubah ideologinya pula menjadi sosialisme yang lebih dekat ke kiri atau komunisme, sedangkan Pesindo Aceh menolak peubahan ideologi tersebut dan tetap menganut azas Islam dan Kebangsaan.[70]

Pandangan Ali Hasjmy mengenai Islam, sebagai  titik pangkal mengapa mesti adanya kewajiban dakwah islamiyah cukup menarik, apabila kita membacanya dari pandangan  politik Islamnya. Menurut Ali Hasjmy, Islam harus diletakkan dalam konteks ideologi, yaitu sebuah pandangan bahwa Islam adalah sebuah agama yang menyeluruh, yang mengatur segala aspek kehidupan, itulah mengapa Ali Hasjmy kemudian menjelaskan tentang posisi negara Islam yang sangat penting, yang kemudian disebutnya pula lahir dari kegiatan dakwah Nabi pada proses awalnya.[71] Ini menunjukkan keterkaitan pandangan dakwah islamiyah yang dibangun Ali Hasjmy memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang, diantaranya politik.

Hal ini dapat dilihat secara lebih tegas dalam sebuah ceramahnya tentang Demokrasi Islam  dihadapan peserta Intermediate Training Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banda Aceh, Ali Hasjmy menegaskan bahwa Islam hadir untuk mempersatukan, dalam organisasi agama, aspek keduniawian dan akhirat, sedangkan dalam organisasi manusia untuk mempersatukan jasmani dan ruhani, serta terakhir dalam organisasi hidup untuk mempersatukan ibadah dan muammalat, dan kesemua itu harus berada di Tariq Ilal’lah atau Jalan Allah.[72]  Lebih lanjut  Ali Hasjmy menjelaskan:

Islam adalah agama kesatuan jang mempersatukan antara semua kekuasan dan kekuatan alam, karena Islam itu adalah AGAMA TAUHID: Agama jang MENG-ESAKAN Tuhan, menjatuhkan semua Agama kedalam Agama Allah, mempersatukna para Rasul dalam memproklamirkan satu Agama, Agama Allah, sedjak adanja hidup: —Sesungguhnja ini adalah ummatmu, satu ummat dan Aku Tuhanmu. Karena  itu, beribadatlah kepada-Ku. (Q. Al Ambija: 92)

Islam adalah Agama kesatuan jang mempersatukan antara ibadat dan mu’ammalat, antara kejakinan dan kesopanan, antara djiwa dengan badan, antara nilai ekonomi dengan nilai ruhani, antar dunia dengan achirat, antar langit dan bumi.

 Dari kesatuan raksasa ini, mendjelmalah perundangan2an  dan peraturan2 Islam, lahirlah pendapat2 dan tjitanja dalam bidang politik, ekonomi/keuangan dan sosial/kebudajaan.

Inilah TJITA-DASAR ISLAM jang menjeluruh , jang mendjadi sumber dari “ideologi-politiknja”nja.[73]

Bila kita memperhatikan dua karangan Ali Hasjmy, Supaja Dakwah Islamijah Berhasil, yang ditulis di tahun 1968, dengan karangan yang ditulis satu tahun sesudahnya, Demokrasi Islam,  memiliki hubungan yang kuat mengenai pemaknaan dakwah islamiyah sebagai sebuah perkara fisabillah  atau Tariq Ilal’lah. Maka demikian, kita dapat membaca bahwa Hasjmy menempatkan dakwah islamiyah itu sebagai pekerjaan ideologi. Hal itu didasari oleh penjabarannya mengenai kedudukan dakwah islamiyah sebagai sebuah ekspresi keislaman yang juga menyeluruh, mencakup berbagai bidang.     

Ali Hasjmy menjelaskan bahwa Dakwah Islamiyah bersifat universal, artinya adalah dakwah alamiah yang dimana dakwah memiliki sasaran kepada seluruh manusia, masyarakat manusia dan alam semesta.[74] Ali Hasjmy melanjutkan bahwa Dakwah Islamiyah hendak membawa manusia kepada kebenaran Ilahiah, dan tidak boleh keluar dari jalan kebenaran Allah, dan kebenaran pun kebenaran tidak boleh bercampur dengan kebatilan.[75]

Selain itu. upaya Ali Hasjmy untuk menempatkan dakwah sebagai sebuah konstruksi keilmuwan, dilakukannya dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengomentari retorika Bung Karno. Menurut Ali Hasjmy, Bung Karno mengajarkan melalui retorika, yang merupakan cabang Ilmu Dakwah, bahwa berpidato harus-lah disesuaikan dengan keadaan, waktu dan tempat.[76] Pertanyaannya, mengapa Ali Hasjmy memberikan contoh Ilmu Dakwah kepada sosok Bung Karno, tentu ini tidak lain karena kekaguman Ali Hasjmy terhadap proklamator RI ini. Rasa kekaguman itu kemudian pada masa revolusi fisik  dituangkannya dalam sebuah puisinya yang ditulis pada tanggal 7 Oktober 1945 dan sangat terkenal;

Aku Serdadumu-Untuk Bung Karno

Gegap gempita membana

Mengguruh riuh mengguntur

Menggentarkan djiwa tidur

Menjentak merentak-rentak

Membaju menderu-deru

Demikian djanji proklamasimu

Nenek-nenek menuntut balas

Bara dendam njala memanas

Kakek tua bangkit menerpa

Bara remadja mara mewadja

Muda belia madju menjerbu

Semua bersatu tudju

Bergegas kemedan bakti

Suaramu tjambuk sakti

 

Bung Karno

Patju kuda djihadmu

Djangan mundur lagi

Kami turunan Iskandar Muda

Tetesan darah Ratu Safijah

Anak tutju mudjahid tiro

Kemanakan Umar pahlawan

Telah siap bertempur

Kami sedang menggempur

 

Dengar derap kaki

Gemerintjing pedang djenawi

Damba sorga hikajat perang sabi

Lihat rentjong bertuah

Nausran dapah

Kami api memerah

Menjala membakar pendjajah

Pantang menjerah

 

Bung Karno,

Beri komando madju…

Aku serdadumu!!

 

Ali Hasjmy kemudian juga mencoba menempatkan dakwah Islamiyah dalam konteks kesejarahan, sebuah studi yang dia memiliki otoritas penuh di dalamnya. Dalam sebuah makalah panjangnya, yang disampaikan di Kuala Lumpur, dengan judul Perkembangan Dakwah Islamiyah di Indonesia.[77] Disini Ali Hasjmy menjelakan tentang perkembangan Islam di Indonesia, dengan menempatkan kegiatan dakwah Islamiah sebagai crucial point dalam penyebaran Islam tersebut dari Aceh sampai ke Jawa.[78]

Namun demikian, Ali Hasjmy menggunakan istilah dakwah islamiyah terkesan arbiter,[79] karena diletakkan dalam setiap patahan-patahan sejarah. Misalnya saja menuliskan “Dakwah bersenjata”, yang dihubungkan dengan Perang Sabil atau “Dakwah Beroranisasi Modern”.[80] Padahal dibeberapa karangan lain, sebut saja Perang di Jalan Allah karangan Ibrahim Alfian,[81]  tidak disebutkan seperti istilah  Ali Hasjmy di atas. Alfian menyebut peristiwa itu sebagai perang. Akan tetapi, di satu sisi kita dapat memahami mengapa Ali Hasjmy bertindak demikian, hal ini disebabkan keinginan besarnya, agar dakwah islamiyah¸ tidak hanya diterjemahkan secara sempit dan praksis. Secara sempit dimaknai, dakwah hanya sekadar dunia mimbar dan pidato,[82] sedangkan secara praksis tidak dalam bermakna sebuh aktifitas penyampaian pesan kebenaran, melainkan juga konstruksi keilmuwan.

Perhatian Ali Hasjmy tentang sejarah dan hubungannya dengan dakwah Islamiyah kemudian juga diwujudkan dengan usulan pendirian Monumen Islam Asia Tenggara (MONISA), yang proyeksinya akan menjadi tempat pusat studi perkembangan Islam di Asia Tenggara, sekaligus sebagai tempat berlangsungnya dakwah Islamiah dalam perngertian yang seluas-luasnya, sebagaimana yang sering digambarkan oleh Ali Hasjmy.[83]        Usulan pendirian monumen dalam hubungannya dengan pusat studi Islam dan usaha dakwah islamiyah merupakan hal yang penting, sebab monumen bisa dijadikan pengikat ingatan bersama.[84]

Secara praktis, gagasan keilmuwan dakwah, dan dibeberapa tempat Ali Hasjmy sering menyebut sebagai dakwah Islamiyah,[85] coba diterjemahkan melalui IAIN Ar Raniry, sebagai tepat pendidikan kader-kader dakwah secara akademik. Itulah mengapa kemudian Ali Hasjmy menguraikan tentang peran mahasiswa Islam dalam tugas dakwah islamiyah. Masih beranjak dari alam pikiran keislaman yang mencakup segala aspek kehidupan, Ali Hasjmy menambahkan bahwa segenap mahasiswa yang ada di dalam lingkungan IAIN Ar Raniry adalah kader-kader dakwah yang kelak akan menjadi kader dakwak islamiyah,[86] melalui sebuah lembaga resmi yang dinamakan Lembaga Dakwah Islamiyah. Yang dimaksud Ali Hasjmy tentang Lembaga Dakwah adalah:

 

Lembaga Dakwah Islamijah sebagai suatu badan resmi dai IAIN Djami’ah Ar Raniry, merupakan gelanggang tempat dilatih dan berlatih para kader “dakwah Islamijah”, terutama jang mendjadi mahasiswa Ar-Raniry sendiri.

Lembaga Dakwah Islamijah, disamping mempunjai Markas pusat, Markas daerah, Markas Wilajah sebagai badan pembimbing, djuga mempunjai sebuah angkatan jang benama Angkatan Dakwah jang langsung mendjadi peradjurit dakwah.

Lembaga Dakwah Islamijah mempunjai organisasi tersendiri jang harus memiliki disiplin jang keras, terutama sekali Angkatan Dakwahnja.

Semua mahasiswa Ar Raniry diwadjibkan mendjadi anggota Angkatan Dakwah, sementara mahasiswa2 dari perguruan tinggi jang lain dan siswa2 dari sekolah2 menengah atas dan pemuda2 Islam pada umumnja , diboleh/diandjurkan mendjadi anggota Angkatan Dakwah.[87]

 

Maka yang menarik, gagasan Ali Hasjmy tentang Angkatan Dakwah itu  kemudian diterjemahkan melalui pendirian Fakultas Dakwah, yang dia kemudian menjadi Dekan pertama-nya.[88] Walaupun demikian, Ali Hasjmy mendapat tantangan  dalam pendirian Fakultas Dakwah tersebut dari lingkungan IAIN-IAIN sendiri, karena pihak tersebut berpendapat bahwa tidak ada fakultas tersebut tidak perlu didirikan karena tidak dikenal adanya ilmu dakwah, meskipun demikian, hal tersebut tidak enghalangi tekad Ali Hasjmy untuk mendirikan Fakulta Dakwah yang ternyata kemudian diikuti oleh IAIN di tempat lain.[89]

 Kesimpulan

Bila mengikuti pemikiran Ali Hasjmy dan latar belakang kehidupan sosial budaya dan politiknya, dapat-lah kita menjelaskan bahwa Ali Hasjmy adalah orang besar, yang telah mendidikasikan hidupnya untuk agama dan bangsa, tanpa kenal lelah.

Beranjak dari keluarga taat agama, pahlawan perang Aceh dan cinta terhadap dunia pendidikan, Ali Hasjmy menjelma menjadi sosok yang kemudian ikut mewarnai Aceh di awal abad 20, melalui dunia politik dan pendidikan, dua wilayah yang tidak bisa dipisahkan darinya. Apa lagi dengan menjadi orang terdepan dalam pendirian Kota Pelajar dan Mahasiswa (KOPELMA) Darussalam, Ali Hasjmy hendak  membangun Aceh melalui dunia pendidikan, yang diyakininya akan membuat Aceh lebih baik sejak hancur akibat Perang Kolonial dan revolusi fisik. Kemudian, sumbangan terbesar dia berikutnya adalah dengan mendorong dakwah islamiyah, tidak sekedar perilaku  untuk mengajak orang kepada jalan Allah, melainkan didorong olehnya untuk menjadi sebuah ilmu, sebuah pekerjaan besar yang sampai kini terus dilakukan oleh para murid-muridnya.[]

Daftar Pustaka

Karya-karya Ali Hasjmy

 

Hasjmy, Ali,  1959, Perdamaian Sedjati Haruslah Mendjadi Tudjuan Bersama. Naskah tidak diterbitkan.

 

———-, 1968, Bagaimana Supaja Dakwah Islamijah Berhasil?, Naskah tidak terbitkan.

 

———–, 1969, Tujuan dan Pembinaan Fakultas Dakwah dan Publisistik. Naskah tidak diterbitkan.

 

———–, 1969, Demokrasi Islam, Naskah tidak terbitkan.

 

———–, 1969, Pokok-Pokok Pikiran tentang: Peranan Mahasiswa Islam dalam Melaksanakan Dakwah Islamiyah. Naskah tidak diterbitkan.

 

———–, 1969, Pendidikan adalah Tiang Utama Kemadjuan Bangsa.  Naskah tidak diterbitkan

 

————, 1970, Dimana Letaknya Negara Islam, Singapura: Penerbitan Pustaka Nasional.

 

———–, 1976, Surat-Surat dari Penjara: Surat-surat Ayah kepada Putrinya, Jakarta: Bulan Bintang.

 

–———–, 1977, Iskandar Muda Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sulthan Aceh Terbesar, Jakarta: Bulan Bintang.

 

 

———–, 1978, Bunga Rampai Revolusi dari  Tanah  Aceh, Jakarta: Bulan Bintang.

 

———–, 1978, 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu, Jakarta: Bulan Bintang.

 

———–, 1981, Pokok-Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Banda Aceh: MUI Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

 

,————, 18 Novmber, 1981, Dari Darulharb ke Darussalam, Pidato Lporan yang dibcakan dalam Rapat Senat teruka IAIN Jamiah Ar-Raniry. Naskah tidak diterbitkan

 

———–, 1984, Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan Kemerdekaan, Jakarta: Bulang Bintang.

 

————, 17 September 1984, Pokok-pokok Pikiran Tentang Pergerakan Wanita Di Indonesia, Bahan yang akan diceramahkan pada upgrading Kohati HMI Cabang Banda Aceh. Naskah tidak diterbitkan.

 

————, Agustus 1986 Tongkat Estafet Kepada Angkatan Darussalam . Naskah tidak diterbitkan.

 

————, 2 September 1986, Siapa Itu Angkatan Darussalam. Naskah tidak diterbitkan.

 

————,  15 Januari 1991, Pengaruh Surat Al-Alaq dalam Kehidupan Ilmiyah A. Hasjmy. Naskah tidak diterbitkan.

 

,————-, Presiden Sukarno dan Islam, Serambi Indonesia, 21 Oktober 1994.

 

———, 15 Januari 1995, Perpustakaan dan Museum sebagai Sarana Pendidikan yang Penting, Diucapkan dalam Upacara Peringatan Ulang Tahun Ke- IV Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

 

———, 1995, 50 Tahun Aceh Membangun, Banda Aceh: MUI Propinsi Daerah Istimewa Aceh

 

———-, 1995, Jembatan Selat Melaka, Banda Aceh: Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy

 

———-, 1997, Hikayat Perang Sabi Karya Sastra Perang Terbesar dalam Dunia Budaya: Sampena Memperingati Ulangtahun ke 124 Perang antara Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Belanda, Makalah disampaikan dalam Seminar Festival Budaya Melayu di Pekanbaru, 24-25 Maret 1997. Naskah tidak diterbitkan.

 

———–, (Peny), 1997, Ulama Aceh: Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangunan Tamadun Bangsa, Jakarta: Bulan Bintang

 

Karya-karya tentang Ali Hasjmy

Gade, Syabuddin & Don, Abdul Ghafar, Peranan Ulamak dalam Pembinaan Negara Bangsa: Pengalaman Dakwah Ali Hasjmy, Prosiding Nadwah Ulama Nusantara (NUN) IV, 25-26 November 2011, Universiti Kebangsaan Malaysia.

 

Ghazali, H. A., 1978, Biografi Prof. Tgk. H. Ali Hasjmy, Jakarta: Socialia.

 

Wildan, 2011, Nasionalisme dan Sastra: Doktrin, Misi, dan Tehnik Penyampaian Nasionalisme dalam Novel A. Hasjmy, Banda Aceh: Penerbit Geuci.

 

Buku, Arsip, Dokumen

 

Abubakar, Said, 1995, Berjuang untuk Daerah, Otonomi Hak Azazi Insani: 70 Tahun Said Abubakar, Banda Aceh: Yayasan Nagasakti.

 

Azra, Azyumardi, 2004, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia, Jakarta:Kencana.

 

Djik, C. Van, 1983, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, Jakarta: Grafitipers

 

Latif, Hamdiah, 1992, Persatuan Ulama Selluruh Aceh (PUSA): its Contributions to Educational Reforms in Aceh, Montreal: Institute of Islamic Studies Mc Gill University, Tesis.

 

Madjid, Nurcholish, 1989, ,Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, Jakarta: Mizan.

 

Panitia Ulang Tahun Univesitas Syiah Kuala, 1961, Mars Kota Darussalam dan Hari Pendidikan  Daerah Istimewa Aceh-2 September, Banda Aceh.

 

Remantan, Daud, 1985, Pembaharuan Pemikiran Islam di Aceh (1914-1953), Jakarta: Institut Agama Islam Syariaf Hidayatullah, Disertasi.

 

Sulaiman, Isa, 1997, Sejarah Aceh: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, Jakarta: Sinar Harapan.

 

Said, Mohammad 1981, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada.

 

Salam, Solichin, 1980, Bung Karno di Mata Bangsa Indonesia, Jakarta: Dela-Rohita.

 

Saleh, Hasan, 1992, Mengapa Aceh Bergolak: Bertarung untuk Kepentingan Bangsa dan Bersabung untuk Kepentingan Daerah, Jakarta: Grafiti.

 

TWH, Muhammad, Museum A. Hasjmy, Sarana Komunikasi, Waspada, 2 Februari 1991.Proposal dan Usulan Anggaran, 2013, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

 

Pesindo, Berita Conferentie Madjelis Pesindo Daerah Atjeh Ke IV, Langsa, 1947.

 

Piyeung, Alkaf Muchtar Ali, IAIN; Dulu, Kini, dan Esok, Warta Ar-raniry, Edisi Khusus No. XXIII Tahun 2013.

 

PKA-3, Menjenguk Masa Lampau, Menjangkau Masa Depan Kebudayaan Aceh, Banda Aceh: Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. 1991

 

Wood, Michael, 2013, Sejarah Resmi Indonesia Modern; Versi Orde Baru dan Para Penentangnya Yogyakarta: Ombak.

 

Zainudin, H.M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan: Iskandar Muda.

 

Zuhri, Saifuddin, Sejarah kebangkitan Islam Dan Perkembangan Islam di Indonesia, (Bandung: Alma’arif)

 

Media Massa

Waspada, 14 Januari 1991..

Waspada, 18 Januari 1991.

Waspada, 20 Januari 1993

Serambi Indonesia, 11 Januari 1991.

Serambi Indonesia, 28 November 1992

Serambi Indonesia , 28 Januari 1993.

Analisa, 29 Maret 1992.

 

[1] Ali Hasjmy, Pengaruh Surat Al-Alaq dalam Kehidupan Ilmiyah A. Hasjmy, 15 Januari 1991. Naskah tidak diterbitkan.

[2] . Melalui didikan Nek Puteh, maka Ali Hasjmy menjadi orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan yang dituangkan melalui beragam tulisannya, Analisa, Ali Hasjmy Dulu dan Sekarang, 29 Maret 1992. Bentuk kecintaan Hasjmy kepada Nek Puteh diwujudkan dengan adanya satu ruangan atas nama beliau di Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Ruangan Nek Puteh itu sendiri berisi barang-barang bernilai sejarah tinggi, salah satunya adalah senjata-senjata yang dipakai oleh Pejuang Aceh dalam perang melawan kolonial Belanda.

[3] Ali Hasjmy, Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan Kemerdekaan, (Jakarta: Bulang Bintang, 1984). Hal, 17.

[4] Ibid. Hal, 96.

[5] Ibid. Hal, 35

[6] A. Hasjmy (Peny), Ulama Aceh: Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangunan Tamadun Bangsa, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hal, 237.

[7] Alkaf Muchtar Ali Piyeung, IAIN; Dulu, Kini, dan Esok, Warta Ar-raniry, Edisi Khusus No. XXIII Tahun 2013.

[8] Ali Hasjmy, Semangat Merdeka, hal. 47-48.

[9]Informasi lebih lengkap mengenai peran lembaga pendidikan Islam modern dalam pembaharuan pemikiran Islam di Aceh, lihat Daud Remantan, Pembaharuan Pemikiran Islam di Aceh (1914-1953), (Jakarta: Institut Agama Islam Syariaf Hidayatullah, Disertasi, 1985).

[10] Reformasi PUSA dalam bidang pendidikan lihat Hamdiah Latif, Persatuan Ulama Selluruh Aceh (PUSA): its Contributions to Educational Reforms in Aceh, (Montreal: Institute of Islamic Studies Mc Gill University, Tesis, 1992).

[11] Daud Remantan, Pembaharuan Pemikiran, hal. 241. Said Abubakar memiliki peran besar dalam menjemput Jepang untuk mengusir Belanda dari Aceh, melalui sebuah Gerakan Fujirawakikun, lihat Said Abubakar, Berjuang untuk Daerah, Otonomi Hak Azazi Insani: 70 Tahun said Abubakar (Banda Aceh: Yayasan Nagasakti, 1995). hal. 19-22

[12] Ali Hasjmy, Bunga Rampai Revolusi dari  Tanah  Aceh, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hal. 37-39.

[13] Ada tiga Lasykar yang memiliki peran besar dalam Revolusi Nasioanl di Aceh, pertama, Lasykar Mujahidin, yang dipimpin  oleh Tgk. Daud Beureuh. Kedua, Divisi Rencong, yang dipimpin oleh Ali Hasjmy. Ketiga, Divisi Teungku Syik Paya Bakong, yang dipimpin oleh Tgk. Amir Husein al-Mujahid. Untuk lebih jelas peran ketiga lasykar itu, lihat Ali Hasjmy, 50 Tahun Aceh Membangun (Banda Aceh: MUI Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995), hal. 164-172

[14] H. A. Ghazaly, Biografi Prof. Tgk. H. Ali Hasjmy, (Jakarta: Socialia, 1978), hal. 20-23.

[15] Lihat Berita Conferentie Madjelis Pesindo Daerah Atjeh Ke IV, Langsa, 1947.

[16] Ali Hasjmy, Semangat Merdeka, hal. 75-58

[17] Ibid, hal. 58-59.

[18] H. A. Ghazaly, Biografi, hal. 15-16. Ketika masih belajar di Padang, Hasjmy  juga menjadi Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab majalah Matahari Islam, sebuah majalah yang diterbitkan oleh pelajar Al Jamiah Al Islamiyah seputar tema Kebudayaan Islam, pendidikan dan Kebangkitan Islam. Lihat Ali Hasjmy, Semangat Merdeka, hal. 57

[19] H. A. Ghazaly, Biografi, hal. 17.

[20] H. A. Ghazaly, Biografi, hal. 18.

[21] Ali Hasjmy, Semangat Merdeka, hal. 401

[22] Pemberontakan darul Islam Aceh yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Daud Beureuh medapatkan banyak dukungan, salah satu analisis tetang adanya dukungan itu karena ada kekhawatiran kalau Pemerintah Pusat meniadakan hasil dari revolusi sosial dan kembalinay Uleebalang pada posisinya semula, lihat C. Van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pembrontakan, (Jakarta: Grafitipers, 1983), hal. 364.

[23] Ibid, hal. 407.

[24] Penulis masih belum menemukan alasan yang kuat mengapa Ali Hasjmy tidak ikut dalam pemberontakan, mengingat pengalaman pergerakan politik dan kelasykaran militer pada masa revolusi fisik yang cemerlang, melalui organisasi Pesindonya. Otobiografi Ali Hasjmy-pun sejauh bacaan penulis tidak memuat alasan tentang ketidak ikutsertaannya dalam pemberontakan DI/TII Aceh.

[25] Ali Hasjmy, Surat-Surat dari Penjara: Surat-surat Ayah kepada Putrinya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal.7-8.

[26] Ibid, hal. 31-38

[27] Ibid, hal. 39-42.

[28] Pemindahan Hasjmy, dari Sumatera Utara ke Jakarta sebagai “syarat” dari Pemerintah Pusat, guna menjauhkannya dari pemberontakan yang sedang berlangsung di Aceh. Lihat Ali Hasjmy, Semangat Mereka, hal. 445-446.

[29] Sebenarnya ada tiga nama yang muncul sebagai calon Gubernur Aceh, Tgk. A. Wahab Seulimeum yang dicalonkan oleh partai Masyumi, A. Hasjmy yang dicalonkan oleh PSSI, dan Zainoel Abidin dari PSI, sedangkan PNI dan Partai NU tidak memiliki calon, sehingga menjatuhkan pilihan kepada A. Hasjmy, sehingga terpilih-lah dia menjadi Gubernur Aceh. Lihat Isa Sulaiman, Sejarah Aceh: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi (Jakarta: Sinar Harapan, 1997), hal. 375.

[30] Tgk. Ali Piyeung adalah tokoh penting dalam Gerakan DI/TII Aceh yang juga merupakan rekan Ali Hasjmy sejak dalam masa pendidikan di Sumatera Barat dan juga dalam pergerakan politik di masa revolusi fisik melalui Pesindo. Ali Piyeung memiliki karir di bidang militer sebagai komandan CPM, dan kemudian memilih meninggalkan karir militernya yang cemerlang untuk menjaga ibunya yang semakin sepuh, lalu kemudian pindah ke kantor Jawatan Agama. Ketika pemberontakan Aceh meletus 20 Februari 1953, Tgk. Ali Piyeung, bersama rekan-rekannya yang lain, naik gunung dan meninggalkan jabatannya. Hal yang sama juga berlaku terhadap Jalil Amin, yang juga merupakan tkoh penting DI/TII Aceh. Bahkan bersama Ali Piyeun, Jalil Amin orang yang terakhir turun gunung setelah selesainya Ikrar Blang Padang di tahun 1962.

[31] Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak: Bertarung untuk Kepentingan Bangsa dan Berasbung untuk Kepentingan Daerah, (Jakarta: Grafiti, 1992), hal. 309-310.

[32] Ali Hasjmy, Perdamaian Sedjati Haruslah Mendjadi Tudjuan Bersama, 1959. Naskah tidak diterbitkan.

[33] Tentang sejarah diadakannya PKA-1 lihat PKA-3, Menjenguk Masa Lampau, Menjangkau Masa Depan Kebudayaan Aceh, (Banda Aceh: Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Isimiewa Aceh, Banda Aceh, 1991), hal. 30-32.

[34] Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, hal. 392

[35] Lebih lengkap penjelasan Ali Hasjmy tersebut, lihat Mars Kota Darussalam dan Hari Pendidikan  Daerah Istimewa Aceh-2 September, 1961

[36] Ali Hasjmy, Dari Darulharb ke Darussalam, Pidato Laporan yang dibacakan dalam Rapat Senat terbuka IAIN Jamiah Ar-Raniry pada tanggal 18 November 1981. Naskah tidak diterbitkan.

[37] Lihat Amanat P.J.M Presiden Soekarno pada upacara pembukaan kota Pelaja dan Mahasiswa Darussalam, Darussalam (Banda Aceh: Jajasan Dana Kesejahteraan Atjeh, 1973), hal. 17.

[38] Ali Hasjmy, Tongkat Estafet Kepada Angkatan Darussalam, Agustus 1986, hal. 1. Naskah tidak diterbitkan.

[39] Ali Hasjmy, Perdamaian Sedjati, hal. 5

[40] Ali Hasjmy, Pendidikan adalah Tiang Utama Kemadjuan Bangsa, 1969.  Naskah tidak diterbitkan. Hal, 10

[41] Ibid, hal. 12

[42] Ali Hasjmy, Perdamaian Sedjati, hal. 4

[43][43] Ali Hasjmy, Siapa Itu Angakatan Darussalam, 2 Setember 1986, hal. 3. Naskah tidak diterbitkan.

[44]Sampai-sampai, Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) menyampaikan kekagumannya atas usaha Ali Hasjmy membentuk sebuah yayasan pendidikan dengan mewakafkan  hak pribadinya untuk kepentingan umum. Hal ini disampaikan oleh Emil Salim ketika meresmikan Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy 15 Januari 1991. Waspada, Menteri KLH Kagumi Prof. A. Hasjmy, 18 Januari 1991. Ide awal pendirian Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy karena didorong oleh keresahan tentan nasib koleksinya setelah dia tinggalkan kelak. Yayasan ini juga akan menjadi pusat kegiatan kebudayaan dan pendidikan. Waspada, Menteri KLH Besok Resmikan Museum dan Pepustakaan YPAH, Waspada, 14 Januari 1991. Ali Hasjmy mengakui bahwa seluruh koleksinya pernah ditawar oleh seorang ilmuwan Riau senilai Rp. 2 Milyar, namun hal itu ditolak olehnya, sebab  baginya, kekayaan itu tidak akan dapat dibawa meninggal, karena menurut Hasjmy pendirian museum dan perpustakaan sebagai media pendidikan dan perbandingan bagi generasi lebih muda. Serambi Indonesia, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy Diilhami oleh Keresahan, 11 Januari 1991.

[45] Ali Hasjmy, Perpustakaan dan Museum sebagai Sarana Pendidikan yang Penting, Diucapkan dalam Upacara Peringatan Ulang Tahun Ke- IV Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy pada tanggal 5 Januari 1995.

[46] Muhammad TWH, Museum A. Hasjmy, Sarana Komunikasi, Waspada, 2 Februari 1991.

[47] Serambi Indonesia, Perpustakaan A. Hasjmy Cerdsakan Bangsa, 28 Januari 1993.

[48] Lihat Proposal dan Usulan Anggaran, 2013, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, hal. 3

[49] Waspada, Mantan Menkop Resmikan Perpustakaan dan Museum Yayasan Ali Hasjmy, 20 Jauari 1993.

[50] Serambi Indonesia, Ali Hasjmy; Kekuatan Baru Akan Lahir di ASEAN, Serambi Indonesia, 28 November 1992.

[51] Ali Hasjmy, Jembatan Selat Melaka, (Banda Aceh: Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, 1995), hal. 119-120.

[52] Ibid, hal. 122

[53] Ali Hasjmy, TA. Talsya dan PDIA, Aceh dan Pahang, (Banda Aceh: Lembaga Kebudayaan Aceh, 1989).

[54] Bersama para sarjana, pemerintah, sejarawan, budayawan, Ali Hasjmy orang berada di garis terdepan untuk meyakinkan dunia bahwa Aceh adalah tempat masukknya Islam pertama di Nusantara pada abad pertama Hijriyah langsung dari Arab, dan pertumbuhan Islam pertama adalah di Kerajaan Peurelak di tahun 225 Hijriah. Lihat Kesimpulan Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Perlk-Rantau-Langsa, Tanggal 25-30 Septeber 1980. Penyebaran Islam di Nusantara menjadi kajian yang tetap menarik sampai kapanpun oleh para peneliti keindonesiaan. Meneliti Islam, di Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Aceh tempo dulu yang telah memberikan peran sentral terhadap pengislaman nusantara, walau Kerajaan Aceh seperti Smudera Pasai pernah mendapat serangan dari kerajaan Hindu-jawa Majapahait tahun 1380, akan tetapi dapat tetap terus eksis dan memberikan sumbangan berarti perkembangan Islam, ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak. Baca Saifuddin Zuhri, Sejarah kebangkitan Islam Dan Perkembangan Islam di Indonesia, (Bandung: Alma’arif) hal. 194-213. Untuk proses penyebaran Islam di daerah lain baca juga H.M.Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, (Medan: Iskandar Muda, 1961) hal. 250-262. Penyebaran Islam dari Aceh ke Nusantara tetap memakai cara damai, sama seperti ketika Islam pertama kali datang ke Aceh. Ditambah pada saat penyebaran, kerajaan Hindu seperti Sriwijaya dan Majapahit sedang mengalami kemunduran hebat karena berbagai krisis politik. Sehingga penerimaan Islam di bagian nusantara lain bersifat akomodatif dan kompromis. Karakteristik utama penyebaran  Islam di nusantara ditandai dengan tarnsformasi intelektual, yang akhirnya membentuk benang merah tradisi ilmiah dan jaringan ulama nusantara. Baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara Abad XVII&XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Jakarta:Kencana, 2004,  hal. 197-259

[55] Ali Hasjmy, Iskandar Muda Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sulthan Aceh Terbesar (Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

[56] Ali Hasjmy, 59 Tahun Aceh Merekan di bawah Pemerintahan Ratu, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978). Dikarenakan sejarah Aceh dibawah kepemimpinan Ratu sangat penting dijelaskan, sampai-sampai Ali Hasjmy menuliskan satu buku tentang tema itu, maka penulis perlu untuk menjelaskan di ruangan ini secara singkat bagaimana kepemimpinan para Ratu tersebut. Kepemimpinan wanita sebagai sultan Aceh yang berlangsung kurang lebih enam puluh tahun. Akan tetapi juga akan mengkaji kepemimpinan wanita di Aceh selama perang. dapat terjadi karena  sebelumnya di Aceh telah terbangun ruang publik yang luas bagi para perempuan. Tentunya keterbukaan serta kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di Aceh sudah sangat lama sekali, sebab kalau tidak, mana mungkin Ratu Safiatuddin akan memimpin selama 34 tahun, suatu prestasi yang luar biasa sekali. Bahkan setelahnya, ada tiga perempuan lagi yang menjadi sultanah. Ini menunjukkan bahwa betapa tingginya apresiasi orang Aceh terhadap perempuan. Padahal naiknya para sultanah tersebut tidak sama dengan dengan kondisi ketika ratu Safiatuddin menggantikan posisi Iskandar Tani. Para sultanah setelah ratu safiatuddin naik tidak dalam pro-kontra tentang boleh atau tidaknya perempuan menjadi pemimpin. Berakhirnya kepemimpinan wanita di Aceh ternyata bukan karena ratunya mangkat atau adanya kudeta dari para bangsawan, melainkan  karena adanya fatwa dari Mekkah tentang keharaman wanita sebagai pemimpin. Yang menarik, keberadaan ulama, yang kali ini dijabat oleh Syeikh Abdul Rauf Assingkili selama empat kepemimpinan sultanah, juga semakin kuat dan dibutuhkan, karena ternyata yang membuat para ratu itu dapat bertahan lebih lama adalah karena pengaruh kuat dari syeikh Abdul Rauf Assingkili. Kepemimpinan wanita dalam kerajaan Aceh yang pertama adalah ratu Safiatuddin, isteri dari sultan Iskandar Tsani. ratu Safiatuddin naik menjadi sultan (1641-1675) untuk menggantikan suaminya yang telah mangkat. Tidak ada sumber yang menyebutkan, apakah Iskandar Tsani memiliki tidak anak lelaki sehingga kepemimpinannya dilanjutkan oleh isterinya. Naiknya Ratu safiatuddin pada awalnya mendapat tantangan, karena terjadi perdebatan tentang boleh atau tidaknya kepemimpinan wanita. Akan tetapi untuk menjaga keutuhan kerajaan maka diangkatlah ratu Safiatuddin  pada hari mangkatnya Sultan Iskandar Tsani. Lihat Mohd. Said, Aceh Sepanjang Abad (Medan: Waspada, 1981), hal. 191         . Ratu Safiatuddin adalah Sultan terlama dalam sejarah kerajaan aceh darussalam dia memerintah selama 34 tahun. Lebih lama dari Sultan Iskandar Muda yang memerintah selama 29 tahun. Tentunya ini merupakan prestasi tersendiri yang dicapai oleh seorang Sultanah. Disaat hampir semua orang meragukannya, mungkin karena dia seorang perempuan dan tampil karena menggantikan suaminya yang meninggal, ratu safiatuddin mampu memainkan peran yang sangat baik dalam menjalankan pemerintahannya, sehingga dia mampu bertahan selama 34 tahun dan menjadikan Kerajaan Aceh darussalam tetap berada dalam jalur sebagai kerajaan besar. Ada beberapa sebab mengapa hal ini dicapai. Pertama karena kemampuan yang dimiliki oleh ratu safiatuddin sendiri serta dukungan orang-orang sekelilingnya, diantaranya Nuruddin Ar-raniry dan Abdul Rauf Assingkili. Nuruddin Ar-raniry adalah Qadhi Malikul Adil pada masa sultan iskandar Tsani serta beberapa tahun pada pemerintahan Ratu Safiatuddin

[57] Ali Hasjmy sangat mengagumi Malahayati. Bagi-nya, Malahayati adalah prototipe perempuan Aceh yang tangguh. Kekaguman itu kemudian ditampilkannya olehnya dengan adanya lukisan Malahayati sedang melawan tentara Portugis di Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, di Banda Aceh.

[58] Ali Hasjmy, Pokok-pokok Pikiran Tentang Pergerakan Wanita Di Indonesia, Bahan yang akan diceramahkan pada upgrading Kohati HMI Cabang Banda Aceh, Tanggal 17 September 1984 di Banda Aceh. Naskah tidak diterbitkan.

[59] Syabuddin Gade & Abdul Ghafar Don, Peranan Ulamak dalam Pembinaan Negara Bangsa: Pengalaman Dakwah Ali Hasjmy, Prosiding Nadwah Ulama Nusantara (NUN) IV, 25-26 November 2011, Universiti Kebangsaan Malaysia.

[60] Wildan, Nasionalisme dan Sastra: Doktrin, Misi, dan Tehnik Penyampaian Nasionalisme dalam Novel A. Hasjmy, (Penerbit Geuci: Banda Aceh, 2011), hal, 237-239.

[61] Ali Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Quran. (Jakarta: Bulan Bintang, 1994).

[62] Ibid, hal v-vi

[63] Ibid, hal. 3

[64] Ibid, hal. 4

[65] Ali Hasjmy, Tujuan dan Pembinaan Fakultas Dakwah dan Publisistik¸1969, hal, 2. Naskah tidak diterbitkan.

[66] Ali Hasmy, Tujuan, hal 3

[67] Syahbuddin Gade dan Abdul Ghafar Don, Peranan Ulamak, hal, 635-634.

[68] Ali Hasjmy, Bagaimana Supaja Dakwah Islamijah Berhasil?, hal. 2, Banda Aceh, September 1968. Naskah tidak terbitkan.

[69] Ibid

[70] Ali Hasjmy, Fatwa Empat orang Ulama Menjiwai Perang Kemerdekaan di Aceh, Ceramah Perjuangan yang Disampaikan diadapan Taruna AKABRI, Banda Aceh 17 Agustus 1983. Naskah tidak diterbitkan.

[71] Ali Hasjmy, Dimana Letaknya Negara Islam, (Singapura: Penerbitan Pustaka Nasional, 1970). Hal 35-40.

[72] Ali Hasjmy, Demokrasi Islam, Tjeramah jang diutjapkan dalam Intermiediate Training Himpunan Mahasiswa Islam Banda Atjeh, pada tanggal 11 Juli 1969 di Banda Aceh. Hal. 9. Naskah tidak diterbitkan.

[73] Ibid. Hal. 10

[74] Ali Hasjmy, Pokok-Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, (Banda Aeh: MUI Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1981), hal. 7

[75] Ibid, hal. 15

[76] Solichin Salam, Bung Karno di Mata Bangsa Indonesia, (Jakarta: Dela-Rohita, 1980), hal. 6. Ali Hasjmy juga pembela utama Bung Karno ketika Orde Baru bersikap keras kepadanya. Selain pernah menjadi ketua panitia HUT Bung Karno,Ali  Hasjmy pernah menulis tentang hubungna Bung Karno dan Islam. Dalam tulisan itu, Ali Hasjmy membela Bung Karno dan berusaha meyakinkan publik, bahwa kadar keislaman presiden pertama Indonesia itu tinggi, karena berakar dari tradisi dan organisasi Islam, sehingga tidak terpengaruh dengan komunisme. Lihat Ali Hasjmy, Presiden Sukarno dan Islam, Serambi Indonesia, 21 Oktober 1994.

[77] Ali Hasjmy, Perkembangan Dakwah Islamiyah di Indonesia, Disampaikan dalam Muzakarah Ulama Asia Tenggara yang Berlangsung i Kualalumpur, 24-26 November 1983. Naskah tidak iterbitkan.

[78] Ibid, hal. 2-17

[79] Istilah arbiter menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia, setelah digunakan oleh HM. Rasyidi untuk membantah argumentasi Nurcholish Madjid yang sngat terkenal, yaitu ‘sekularisasi’ yang disampaikannya dalam pidatonya yang berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat. Istilah sekularisasi dalam pemaknaan Nurcholish Madjid itulah yang disebut HM. Rasyidi sebagai bentuk arbiter atau semau gue. Lebih detil tentang gagasan Nurcholish Madjid, lihat Nurcholish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, (Jakarta: Mizan, 1989).

[80] Ali Hasjmy, Perkembangan Dakwah, hal 20

[81] Hikayat Perang Sabi  sebagaikarya sastra  pemberi motivasi orang Aceh melawan Belanda, yang bgi orang Aceh dianggap sebagai musuh agama Teuku Ibrahim Alfian, Perang  di Jalan Allah, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,1987). Hikayat Perang Sabi ditempatkan oleh Ali Hasjmy sebagai karya sastra perang terbesar dalam dunia budaya, lihat Ali Hasjmy,  Hikayat Perang Sabi Karya Sastra Perang Terbesar dalam Dunia Budaya: Sampena Memperingati Ulangtahun ke 124 Perang antara Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Belanda, Makalah disampaikan dalam Seminar Festival Budaya Melayu Yahun 1997 di Pekanbaru, 24-25 Maret 1997. Naskah tidak diterbitkan.

 

[82] Hal ini merupakan pengalaman pribadi penulis ketika menjadi mahasiswa fakultas dakwah satu dekade yang lalu. Doktrin pertama yang ditanamkan adalah bahwa dakwah bukan sekadar pidato, akan tetapi juga menggunakan media lain, seperti media dan dunia menulis. Hal ini menunjukkan keberhasilan Ali Hasjmy dalam menteremahkan dakwah islamiyah dalam berbagai bidang.

[83] Ibid, hal. 24

[84] Michael Wood membahasnya dengan baik mengenai keberadaan monumen di Indonesia sejak zaman kerajaan-kerajaan di nusantara, pendudukan Hindia Belanda, zaman Sukarno sampai dengan Orde Baru, dimana monumen memiliki posisi penting dalam hubungannya dengan rezim yang sedang berkuasa. Lihat Michael Wood, Sejarah Resmi Indonesia Modern; Versi Orde Baru dan Para Penentangnya (Yogyakarta: Ombak, 2013). Hal, 34-42.

[85] Dalam beberapa karangan yang penulis telusuri, Ali Hasjmy lebih sering menggunakan istilah dakwah Islamiyah sebagai aktifitas praktis dalam penyampaian pesan Ilahi dan al Haq, daripada penjelasan mengenai bangun epistemologi keilmuwa dakwah itu sendiri.

[86] Ali Hasjmy, Pokok-Pokok Pikiran tentang: Peranan Mahasiswa Islam dalam Melaksanakan Dakwah Islamiyah, Prasaran dalm Musjawarah Senat III IAIN Djamiah Ar Raniry Darussalam, diutjapkan pada tanggal 19 Maret 1969 di Banda Atjeh. Hal, 8. Naskah tidak diterbitkan.

[87] Ibid, hal. 9

[88] Ali Hasjmy, Semangat Merdeka, hal. 673.

[89] Ibid, hal. 674

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...