2 menit waktu baca

Godfather di Sapen

Kredit foto bbc.co.uk
Kredit foto bbc.co.uk

Indekosnya Alwi Parhanudin di pesantren kecil di Yogyakarta. Tempatnya sederhana. Ada banyak kamar yang berderet. Setiap orang mendiami satu kamar. Kamarnya kecil. Alwi merupakan salah satu kolega saya ketika mengambil studi magister di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alwi berasal dari Nusa Tenggara Barat. Di kampung halamannya, dia merupakan orang terpandang karena ayahnya seorang Tuan Guru.

Di kampus tempat yang terletak di Sapen, kami belajar beragam mata kuliah studi Islam langsung dari pakarnya. Ruang kuliah tampak meriah oleh letupan-letupan pemikiran. Setelah kuliah usai, biasanya beberapa teman, atau bahkan saya sendiri berkunjung ke indekosnya Alwi. Di sana, setelah mendiskusikan apa yang dipelajari di kelas dengan pendekatan kritis ala Yogyakarta, kami memasuki alam lain: berkenalan dengan dunia di luar perkuliahan pada dua nama, Sukarno dan Godfather.

Pada Sukarno kami mendengar lekat-lekat pidatonya, bahkan menghafal beberapa bagian. Pidato Sukarno yang kami dapatkan di internet begitu memukau. Ragam diksinya kami ingat dan ulang-ulang: Ramayana, Up and Down, Malaysia negeri tanpa konsepsi, dan banyak lagi lainnya. Suara Sukarno yang menggelagar itu membuat kamar indekos Alwi berubah seperti ruang indoktrinasi Manipol Usdek.

Selain Sukarno, ada satu tokoh fiksi yang menyergap kami, namanya Vito Corleone. Diperankan oleh Marlon Brando di film The Godfhather. Dia disapa dengan hormat: Don Corleone. Dia datang ke Amerika Serikat dari Sisilia, Italia. Di Amerika Serikat dia lari dari kematian. Tidak hanya tetap hidup, Vito menjadi pemimpin keluarga mafia terkemuka di New York. Dia memiliki empat anak: Sonny, Fredo, Michael, dan Connie.

Dari keempat anak itu, Michael menjadi pewarisnya. Film ini begitu mencekat. Setiap adegan, dialog, dan quotesnya begitu memikat. Saya dan Alwi bahkan merasa menjadi bagian dari setiap ruang di film itu. Kami merasa dekat quotes indah nan kuat dari Don Corleone, seperti “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.” Bagi yang menonton film Godfather edisi pertama, pastilah mengetahui kalau kalimat itu ditujukan untuk ajaran kepada anaknya, Sonny. Quote lain yang sangat melegenda adalah “I’m gonna make him an offer he can’t refuse.”

Setiap dialog di film itu layaknya mantra yang harus dirapal sebagai penguat. Sebagai mahasiswa perantau yang datang dari daerah masing-masing, The Godfather tidak sekadar film, melainkan juga sebagai pengingat bagaimana hidup harus dijalankan. Terlebih, menyaksikan setiap adegan The Godfather dari tanah Sapen, tentulah memberi nuansa yang mendekati mistisisme, sebagaimana adegan pembuka di film itu.

Godfather pastilah memukau bagi kami saat itu – bahkan sampai sekarang. Entah berapa kali saya menonton film itu, atau melihat dengan serius potongan dialog dan adegan yang beredar di sosial media. Selalu ada perasaan yang tidak bisa ditutupi tentang betapa kagumnya melihat film Francis Ford Coppola. Film yang harus diakui berkali-kali lipat menawan dibanding dengan novelnya. Film ini berangkat dari novel yang ditulis oleh Mario Puzzo.

Terkadang, untuk mengingat masa itu, saya mengirim potongan video dari film The Godfather kepada Alwi. Saya meyakini dia masih lekat dengan film itu. Apakah dia masih menontonnya berulang-ulang layaknya sebuah ritual, saya kurang yakin mengingat kesibukannya kini sebagai akademisi dan ulama muda sekaligus. Dua profesi yang mengambil banyak sekali waktu seseorang.

Langsa, 2 Mei 2023

Komentar Facebook
Kuy, berbagi...

0%